Rabu, 04 Mei 2016

Alhamdulillah, DKDC Ready Stock!




Penampakan buku DKDC :)



Alhamdulillah, buku ketiga saya sudah terbit dan sudah ready stock!

Judul: Diary Kecil di Jalan Cinta-Mu
Penulis : Angga Ashari & DP Anggi
Jenis Buku: Motivasi Islami, 184 Halaman
Terbitan: April, 2016
Ukuran: 13cmx19cm
Penerbit : Zukzez Ex Press (Kalimantan Selatan)
Harga: Rp. 40.000 (belum termasuk ongkir)
Harga khusus untuk Pekanbaru: Rp. 50.000 saja! (sudah termasuk ongkir)

Sinopsis:

"Kau akan hilang dari sejarah, bila kau tidak menulis. Angga dan Anggi cerdik melihat kesempatan ini dengan menulis 'buku diary'. Perpaduan buku & diary, tak hanya akan membuat mereka hidup dalam sejarah, tetapi juga membuat mereka... bermuhasabah." ~@tausiyahku_

Diary Kecil di Jalan Cinta-Mu;

Terkadang, Allah mengajarkan rindu itu dengan jarak yang terbumbu oleh waktu. Di sela-sela itu, tentu bukanlah lorong kosong yang senantiasa bertamu. Malah, ia adalah lorong dengan hiasan-hiasan yang begitu indah. Hiasan yang juga kerap membuat kita lupa tentang apa yang berada di ujung lorong itu.

Sebagaimana kita hidup, terkadang kita lupa akan ujung lorong kehidupan kita, akhirat. Terkadang kita lupa, bagaimana harus mengisi keseharian dengan sesuatu yang bermanfaat. Dan oleh sebab ujian itu selalu ada, kita akan selalu butuh pengingat. Kita butuh sandaran agar kepada-Nya kita selalu merasa terikat. Kita butuh kekuatan saat merasakan kehidupan terkadang begitu berat. Dan, kita butuh orang-orang yang selalu memberi semangat.

________________
100% Royalti untuk Palestina, Insya'Allah ‪#‎SavePalestine‬

“Jika penduduk Syam rusak agamanya maka tak tersisa kebaikan di tengah kalian. Akan selalu ada satu kelompok dari umatku yang dimenangkan oleh Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula yang berseberangan hingga datang hari kiamat.” (Shahih, HR Tirmidzi 2192, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Maka izinkan kami mengupaya meski tak sebanyak upaya yang berada di garda depan, para mujahid penjaga bumi Syam. Sungguh setiap umat muslim di dunia ini berhutang banyak pada penduduk Syam. Meski tak mampu terbayar sepenuhnya, inilah usaha kami :’) ‪#‎SaveSyam‬

Untuk Pemesanan:
(pilih salah satunya saja ya)
• Hubungi saya langsung :) diinbox fb boleh..
• Sms/telepon ke nomor penerbit: 089692745867
• Inbox Penerbit Zukzez Express melalui facebook: Zukzez Ex Press
• invite PIN BBM penerbit: 5CE7D9A1

Terimakasih wa jazakumullah khair

Kamis, 14 April 2016

Puisi- Puisi DP Anggi @Riau Pos 13 Maret 2016


@Riau Pos

Rama-rama

kisah yang tak kuceritakan padamu
adalah perihal luka yang semakin basah dan biru
dan kisah yang kusebutkan padamu
adalah kenangan yang masih genap di kepalaku

barangkali, kita adalah rindu yang tak diselesaikan
dan kita seperti rama-rama yang meneruskan hidup lantaran
bingung bagaimana bisa kita
lenyap dengan tiba-tiba lantas kita tak berdaya

lalu kesepianku meranggas serupa
daun jati yang menggugurkan diri
dan kesedihanku menguap menjadi air mata
; meninggalkan perih

meski waktu meninggalkan kita begitu cepat
dan lambaian tanganmu terasa begitu menyayat
"kita adalah apa yang berangkat dan tertinggal di kepala penyair
dan kita adalah rama-rama yang dirangkai indah menjadi syair-syair"

Greenhill, 09 Oktober 2015

Larut

apakah malam belum larut?
matamu nyalang dan keningmu mengkerut
apakah sebab kau masih percaya bahwa nyanyian jangkrik lebih
mirip malam ketimbang jam dinding yang menuju pagi?

Senin, 22 Februari 2016

Perpisahan

Doc. Pribadi / @dp_angg1Desain

Terjadi lagi perpisahan ini. Pertemuan dan perkenalan setelah berbulan-bulan akhirnya terpisah saat rindu ditepis dan jarak direntangkan.

***

Ya, itu berbulan-bulan yang lalu. Banyak wajah-wajah baru. Aku harus mengenal satu-satu. Kita malu-malu. Hari-hari berlalu hingga pada akhirnya di malam yang hening doa-doa kita menyatu.

Lalu pertemuan itu terus dilaksanakan. Namun, pertemuan yang utuh bisa dihitung jari. Ada saja yang berhalangan hadir. Tentu itu alasan syar’i karena tak ada yang mengalahkan indahnya pertemuan yang jannah ini.

Ini pengakuan; pernah, suatu kali aku ‘nakal’ tidak membawa al-Qur’an. Harusnya, setiap diri membawa al-Qur’an dan membacanya bergiliran. Tetapi, karena waktu itu aku pikir aku terlambat dan tilawah sudah lewat dari perkiraan, jadinya ya merasa bersalah karena salah bicara. Aku bilang lupa padahal sengaja tak bawa. Mengingat itu, uh aku malu. Maafkan. Huhuhu.

Semakin lama, aku semakin mengenal kamu-kamu; yang ceria, yang banyak tanya, yang malu-malu, yang pendiam, yang suka nyahut ucapan, yang doyan makan, yang pastinya shalihah semua. Yang paling sering dibully adalah yang doyan makan. Matanya berbinar saat disuguhkan makanan—termasuk aku,hehehe—dan pada akhirnya seluruh ruangan penuh dengan tawa yang tertahan-tahan. Namanya juga, ya, perempuan.

Aku sering kaget melihat isian amalan mingguan kamu-kamu

Rabu, 03 Februari 2016

Alhamdulillah, Telah Terbit!



TELAH TERBIT...

Judul : Hati yang Lillah Mencintai
Jenis Buku: Novel Islami
Penulis : Khair & DP Anggi
Ukuran: 19 X 13 cm
Tebal : 160 halaman 
ISBN : 978-602-6867-12-4
Terbitan : Februari 2016
Harga : Rp.37.000,- (belum termasuk ongkir)
------------------------------------
------------------------------------
Sinopsis: 
"Kita adalah sebuah kekhawatiran ketika jiwa kita semakin jauh dari Sang Pemilik Kehidupan." Ma syaa Allah, kata demi kata yang tertulis di buku ini menyejukkan. Seperti apa yang sempat terkatakan di luar sana ... "Berpuisilah, bila prosa dan kata-kata biasa tak bisa membuat orang lain mengerti." Khair dan DP Anggi melakukannya dengan gaya yang jelita. Menyambung bait-baitnya dengan pemaknaan yang mendalam. Top! -- @tausiyahku

***
“…engkau tampak di mataku, terdetik di hatiku namun aku tak mampu mengungkap rindu tersebab tak ingin membuat-Nya cemburu…” Terluka dan melukai itu pilihan, tuan putri. Tidak ada yang datang tanpa disengaja. Semuanya sesuai dengan skenario sejak perjanjian dahulu kala. Dan tak ada dialog yang terlupa, yang ada hanya teratur dalam kontrak hidup semula. Memilih apapun itu juga sama. Kamu timbang-timbang, lalu cinta dan rindu yang masuk juga setelah kamu timang-timang. Mencinta dan dicinta juga pilihan semisal dengan tadi. Ataupun merasakan keduanya, ini juga pilihan yang bisa kamu nikmati. Asal niat dan tujuan tak berkelok ke lain hati. Tuan putri tetap bisa merasakan betapa ajaibnya pilihan yang dipilih sendiri. Resiko baik ataukah buruk yang didapati nanti, maka dari awal harus sudah kamu selidiki.
------------------------------------
------------------------------------
Pemesanan buku:
Sms/telepon ke nomor penerbit: 089692745867 atau penulis : 085362657400
Inbox Penerbit Zukzez Express melalui facebook: Zukzez Ex Press
Atau invite PIN BBM penerbit: 5CE7D9A1
Met order, guys! Semoga bermanfaat dan berkah.

Jumat, 02 Oktober 2015

Meraih Makna Cinta

“(Mungkin) jatuh cinta itu sederhana. Sesederhana ketika kita menginginkan pelangi, namun untuk melihatnya saja, kita harus melewati hujan dan panas yang silih berganti.”
 
Doc. Pribadi
Hari ini, adalah September di tahun kedua. Di antara kabut asap yang sempat menyelimuti, aku terus saja merajut kesibukan dan menyerahkan diri pada kesepian. Bukan menyepikan diri, hanya saja aku benar-benar merasa belum menemukan diriku yang utuh. Kesibukan pun, sengaja kupadatkan agar hatiku tak selalu bertanya, “Bagaimana rasanya jatuh cinta?”
Aku mendengar dari teman-teman sejak pendidikan dasar, perguruan tinggi hingga kini bekerja, jatuh cinta hanya indah awalnya, nelangsa akhirnya. Jatuh cinta bisa berkali-kali dan patah hati pun lebih dahsyat dari itu. Aku sempat membayangkan, jika hati itu adalah ban. Bagaimana bisa ban yang itu dibocorkan berkali-kali lalu ditambal-tambal lagi? Seperti apa bentuk ban itu?
Perempuan yang disibukkan oleh cinta—menurutku, selalu ingin berada didekat orang yang ‘katanya’ ia cintai. Tetapi, yang membuatku bingung adalah, perempuan ini selalu minta untuk dihampiri. Maksudku, mereka jarang sekali bicara lebih dulu sebelum lelaki bicara. Mereka takkan mengungkapkan rindu secara langsung melainkan dengan sindiran saja.

Cingkuak [Headline di Kompasiana]


Namanya Cing Kuak. Orang-orang memanggilnya Pak Kuak. Kelatahan lidah orang-orang melayu, membuat namanya bergeser menjadi Pakuak. Semasa kecil, Pakuak sering kali mendapat ejekan dari kawan-kawannya sebab namanya persis seperti salah satu sebutan kera di kampung ini—Cingkuak. Namun, maknya selalu berpesan, tidak mesti ada asap meski pun ada api.
Pakuak hidup di sebuah bukit yang jauh dari hingar bingar kota. Jalan di sana penuh dengan belukar, pohon-pohon besar, dan masih mudah dijumpai hewan liar. Keinginan Pakuak untuk bersekolah membuatnya kini mengabdi sebagai guru di Bukit Cadika itu walau di masa kecilnya Pakuak selalu diejek oleh ibu-ibu yang anaknya secara turun-temurun kini belajar di sekolah yang didirikan Pakuak.
***
Awan mendung dan angin menampar keras daun-daun, membuat bapak Cing Kuak memacu becak kencang sekali. Saat becak itu akan melewati tikungan, tiba-tiba melintas seekor kera yang biasa disebut Cingkuak oleh masyarakat di sana. Mak yang mendengar suaminya berteriak lantang “Cinggggkuakkkkkk!”, langsung senyum-senyum karena sudah merasa menemukan nama untuk anak semata wayangnya.
“Pak, aku sudah menemukan nama untuk anak kita,” kata mak ketika sampai di halaman rumah.
“Benarkah? Siapa?”
“Cing Kuak,” ucapnya pendek. Bapak Cing Kuak terbatuk-batuk mendengarnya.

Jumat, 18 September 2015

Parenting; ASAL ANAK DIAM

"Anak-anak dewasa sebelum usianya. Sehingga, ketika usia mereka kian bertambah, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" sebuah kutipan yang entah saya baca di mana.
Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang parenting, yang berangkat dari kegusaran terhadap perkembangan anak di era teknologi ini. Bismillahirrahmaanirraahiim... 

Seorang anak memiliki kedudukan tertentu dalam keluarga muslim, di antaranya ialah, anak sebagai anugerah Allah, sebagai ujian, sebagai amanah, sebagai sarana beramal shaleh, dan sebagai pewaris peradaban. Beda generasi memang beda cara mendidiknya. Ya, benar yang disampaikan oleh Umar Bin Khattab. Tetapi, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh anak masa kini. Kesibukan kedua orangtua bekerja, terkadang ayah melupakan perannya, runtuhnya nilai-nilai, dan teknologi yang bikin  masalah.

Dengan kemajuan teknologi sekarang ini arus informasi melalui internet mudah sekali untuk diakses bahkan oleh anak-anak yang baru saja meninggalkan usia emasnya. Anak-anak usia emas dibiarkan berada di depan televisi berjam-jam. Warna-warni tampilan televisi yang bahkan terkadang tidak sesuai dengan usia mereka masuk ke dalam otaknya dan tentu itu tidak akan mereka filter sebab belum tahu mana yang benar dan salah. Siapa yang mendampingi ketika di rumah saja orangtua masih sibuk berkomunikasi via handphone dengan rekan kerjanya? Jika tak sendiri, ya tentu asisten rumah tangga yang menemani mereka.

Jika anak-anak mulai bosan dengan televisi, tentu mereka akan merengek. Orangtua tidak menyukai rengekan yang mengisi seluruh ruangan di rumah itu, termasuk ruangan yang ada di dalam hati mereka. Padahal, rengekan itu terbatas waktunya. Tidakkah rindu jika nanti usia semakin bertambah dan anak-anak malah merasa malu untuk diatur di depan teman-temannya?