Jumat, 18 September 2015

Parenting; ASAL ANAK DIAM

"Anak-anak dewasa sebelum usianya. Sehingga, ketika usia mereka kian bertambah, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang kekanak-kanakan" sebuah kutipan yang entah saya baca di mana.
Sudah lama sekali saya ingin menulis tentang parenting, yang berangkat dari kegusaran terhadap perkembangan anak di era teknologi ini. Bismillahirrahmaanirraahiim... 

Seorang anak memiliki kedudukan tertentu dalam keluarga muslim, di antaranya ialah, anak sebagai anugerah Allah, sebagai ujian, sebagai amanah, sebagai sarana beramal shaleh, dan sebagai pewaris peradaban. Beda generasi memang beda cara mendidiknya. Ya, benar yang disampaikan oleh Umar Bin Khattab. Tetapi, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh anak masa kini. Kesibukan kedua orangtua bekerja, terkadang ayah melupakan perannya, runtuhnya nilai-nilai, dan teknologi yang bikin  masalah.

Dengan kemajuan teknologi sekarang ini arus informasi melalui internet mudah sekali untuk diakses bahkan oleh anak-anak yang baru saja meninggalkan usia emasnya. Anak-anak usia emas dibiarkan berada di depan televisi berjam-jam. Warna-warni tampilan televisi yang bahkan terkadang tidak sesuai dengan usia mereka masuk ke dalam otaknya dan tentu itu tidak akan mereka filter sebab belum tahu mana yang benar dan salah. Siapa yang mendampingi ketika di rumah saja orangtua masih sibuk berkomunikasi via handphone dengan rekan kerjanya? Jika tak sendiri, ya tentu asisten rumah tangga yang menemani mereka.

Jika anak-anak mulai bosan dengan televisi, tentu mereka akan merengek. Orangtua tidak menyukai rengekan yang mengisi seluruh ruangan di rumah itu, termasuk ruangan yang ada di dalam hati mereka. Padahal, rengekan itu terbatas waktunya. Tidakkah rindu jika nanti usia semakin bertambah dan anak-anak malah merasa malu untuk diatur di depan teman-temannya?


ASAL ANAK DIAM. Akhirnya, anak diberikan gadget untuk bermain game. Seperti itulah yang terjadi. Orangtua tidak ingin repot oleh rengekan itu sebab pekerjaan mereka sudah cukup banyak membuat mereka repot. Mereka banting tulang, katanya demi masa depan anak. Menabung, menabung dan menabung.

Wahai ayah dan bunda, orangtua dari generasi masa depan...
Membangun masa depan anak bukan hanya soalan uang. Akhlak, adab dan pengajaran akan dasar-dasar kehidupan jauh lebih penting.

Jangan takut jika mereka tidak bisa sekolah karena tidak ada uang. Rezeki itu akan Allah berikan. Takutlah jika nanti anak-anak itu tidak mengerti bagaimana menghadapi dunia yang semakin tua. Takutlah jika nanti mereka lebih mudah frustasi dan mengurung diri sehingga mereka akan menjadi mudah putus asa.

Yang mereka tahu adalah kehidupan serba instan yang diajarkan sejak masa kecilnya. Padahal, usaha orangtua untuk mendiamkan anak itu bermanfaat untuk kita dan mereka; agar mereka tahu, kita memperlihatkan bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Ada masa sulitnya. Ada persoalan yang harus terus dihadapi. Ada jalan keluarnya.

Jangan terlalu bangga jika anak-anak balita sudah ahli bermain gadget. Jangan terlalu bangga jika anak-anak begitu mudah mengakses internet. Jangan terlalu bangga dengan hal-hal seperti demikian sebab tak terlalu berpengaruh terhadap masa depannya nanti. Toh, para ayah dan bunda pegang gadget usia berapa? Punya android lah, usia berapa? Sukses juga, kan? Ngga main gadget dari bayi, kan?

Manusia itu pembosan. Sering jenuh. Jika anak-anak di masa kecil sudah disediakan gadget. Usia selanjutnya, ketika bosan itu datang, mau diberikan apa?

Saya sangat prihatin dengan permasalahan ini. Saya mencintai anak-anak yang merupakan generasi pembangun peradaban di masa depan. Saat mendengar banyak orangtua yang bercerita kepada saya, dada saya gemuruh. Saya cukup tahu diri, sebab saya belum menikah. Tetapi, saya selalu tertarik dengan dunia parenting .

Jadi mohon para ayah dan bunda. Jadilah orangtua yang bersabar. Tidak buru-buru mengabulkan tuntutan anak. Anak-anak itu, tidak hanya punya hak melainkan juga kewajiban. Orangtua pun begitu. Orang tua memang berhak melakukan apa saja atas tumbuh kembang anaknya. Tetapi, orangtua juga berkewajiban mendidik anaknya dengan benar dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah. InsyaaAllah nanti sukses dunia akhirat malah.

Kita bisa belajar dari buku-buku parenting. Berdiskusi dengan pemerhati anak. Bisa browsing cara mendidik anak. Harus terus belajar. Jangan lantas berhenti belajar ketika menjadi orangtua. Belajar itu seumur hidup.


Pelajaran yang bisa kita ambil adalah, belajar menjadi orangtua itu sesungguhnya bukan setelah menikah. Tetapi jauh, sebelum bertemu jodoh bahkan. Belajarlah selagi Allah masih memberikan kesempatan. Sebab proses belajar itulah yang menentukan berhasil atau tidaknya kita dalam mendidik anak kelak. Maka, untuk para jomblo mulia, didiklah anakmu dengan memilih pendamping hidup yang tepat. Tak hanya tepat, melainkan juga taat kepada Allah.

So, tetap memperbaiki diri ya ^^ tak hanya untuk kita, tetapi juga untuk masa depan keluarga :)

Salam hangat
DP Anggi


3 komentar: