Sabtu, 13 Oktober 2012

Hijab Penanti Cinta

Hijab Penanti Cinta

Oleh DP Anggi FAM790M Pku
Cerpen ini menjadi Pemenang I dan dibukukan dengan tema "Penantian Cinta"
Selamat membaca^_^

Aku tertawa ringan ketika usai membaca sebuah cerpen. Rasanya tidak sedikitpun ada nilai yang bisa dipetik di dalamnya. Hanya seuntai kisah roman picisan anak remaja. Seperti biasa, cerita rebut-rebutan kekasih dan kisah cinta di ujung penderitaan. Aku segera beristighfar. Aku ingat bahwa yang penting adalah niat menulisnya dulu. Aku tersenyum sambil menyelipkan pensil kecil di telingaku. Aku berani melepas jilbab karena sekarang sedang berada di dalam kamar.
Aku masih saja mencari inspirasi untuk melanjutkan karyaku. Kali ini aku tertegun sejenak. Mencoba menerawang jauh ke alam imajinasi tertinggiku. Aku ingin sekali menulis tapi tidak sedikitpun ide brilian menghampiri benak. Di umurku yang masih 19 tahun ini aku masih terlalu mudah untuk kehilangan banyak ide. Aku coba membuka facebookku. Seseorang telah menambahkanku sebagai teman. Namanya Andito Nugroho. Sepertinya aku pernah melihat akun ini sebelumnya. Aku diamkan saja.
Tak lama setelah itu ia mengirim pesan di inbox facebookku. Kami pun  berkenalan. Ternyata beliau adalah seorang dokter muda umur 29 tahun. Tapi aku menaruh kekaguman atas dirinya. Ia sudah masuk tahun ketiga berprofesi sebagai dokter. Mengejutkan saat ia meminta bertukar riwayat hidup karena ingin mengenalku lebih jauh.
Sebagai seorang muslimah aku berpikir dan memutar otak berkali-kali. Semula aku menolak untuk itu, akhirnya aku mengirim setelah ia lebih dulu mengirim riwayat hidup dan fotonya kepadaku.
Aku terkesima melihat riwayat hidupnya yang penuh dengan prestasi. Aku bergumam, ‘sungguh beruntung perempuan yang menjadi pendamping hidupnya’. Berselang beberapa saat dengan iseng aku mengatakan bahwa aku titip salam untuk anak istrinya. Ia tertawa dan mengatakan bahwa ia masih lajang. Lagi-lagi aku bergumam, ‘apa lagi yang dicari orang ini selain istri di karirnya yang menapak di usia muda?’. Dokter muda itu berkata bahwa belum ada perempuan yang mau menjadi istrinya.
"Dan perempuan baik adalah untuk laki-laki baik dan laki-laki baik adalah untuk perempuan baik pula" (QS. an-Nur : 26). Mendengar aku berbicara seperti itu ia langsung menghujaniku dengan banyak pujian. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan. Yang jelas ia mengatakan bahwa ia menaruh kagum karena aku seorang gadis remaja yang dewasa. Aku membalas kalimatnya, ‘Usia bukanlah jaminan bagi kedewasaan. Semakin banyak masalah yang kau selesaikan dengan bijak semakin tinggi tingkat kedewasaanmu’.
Hari-hari ku lalui dengan tenang. Sejak mengenal dokter muda itu inspirasi menulisku mengalir deras. Namun sempat padam karena beberapa waktu ku lihat ia tak menampakkan batang hidungnya di facebook. Aku merasa kesepian dan merindu. Namun kerinduanku tidaklah meletup-letup seperti kisah-kisah cinta remaja lainnya. Aku hanya menulis kerinduan itu berupa surat-surat yang ku peruntukkan kepadanya. Aku bingung, mengapa aku seperti ini sejak mengenalnya. Aku dan dia adalah jauh. Jauh dari umur, pengalaman, jarak dan kedewasaan. Mustahil rasanya jika perasaanku yang tumbuh berkembang dengan sendirinya ini menjadi sebuah kenyataan.
Kali ini aku menulis surat kedua setelah surat pertama yang berisi tentang perkenalan singkat aku dan dia. Pada surat kedua ini, aku bertanya bagaimana kabarnya, apa yang sedang ia lakukan dan bercerita sedikit tentang curahan hati ku hari ini kepadanya. Di sela surat itu terjatuh setetes air mata yang tidak sengaja tertumpah. Aku juga tidak tahu mengapa haru menghampiriku. Aku tetap menulis, menulis dan menulis.
Tiga hari setelah berkenalan dengannya tak juga ku dapati kabarnya. Aku membuka facebooknya pada hari itu. Ternyata ia sedang sibuk sekali dengan pekerjaannya. Tak lama kemudian dia online. Ia mengucap salam dan menanyakan kabarku. Senang hatiku tak terhingga karenanya. Aku mengatakan bahwa aku sedang kesepian. Dengan santai ia memberikan nomor handphonenya kepadaku, padahal sebelumnya aku sudah menyimpan nomornya yang aku dapat dari riwayat hidupnya. Ini seperti sebuah celah kesengajaan yang ia berikan untukku. Tapi—entahlah, hanya Allah yang tahu.
Sore itu aku memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat kepadanya. Aku pasrah saja jika ia tidak membalas karena ia adalah orang yang sibuk. Malam hari, ketika aku berjalan di taman dan duduk dibawah sinar cahaya temaram rembulan sebuah pesan masuk ke inbox. Aku membukanya, mataku melotot. Aku tidak percaya bahwa ia sudi untuk membalas pesanku. Aku berbisik didalam hati, ‘Ya Allah, mengapa orang ini memperdulikanku? Padahal ia adalah orang sibuk yang mungkin tak cukup 24 jam baginya’.
***
Siang itu aku duduk di ayunan di depan rumahku. Tiada satu orang pun menemaniku karena ayah, ibu dan adik sedang pergi berlibur ke luar kota. Aku adalah remaja yang kurang menyukai liburan dan keramaian. Aku lebih memilih untuk menjaga rumah dan menulis sebanyak-banyaknya. Itulah hobiku. Hobi yang tidak di wariskan oleh ayah, ibu, kakek, nenek, atau pun orang terdahulu. Kata ibu, hobiku ini lahiriah sudah ada sejak aku kecil, dimulai dengan suka menulis-nulis di dinding rumah. Tidak heran jika aku meminta lebih memilih di rumah daripada berlibur untuk dua hari saja. Aku ingin sekali menjadi penulis, karena itulah aku tidak melanjutkan ke perguruan tinggi.
Hembusan angin meniup jilbabku. Angin kali ini membawa hawa panas karena hujan tak kunjung turun beberapa minggu terakhir. Aku memegang secarik kertas dan pensil. ‘Beep... Beep... Beep’, handphone ku berdering. Tidak seperti biasanya ada orang yang menelfonku karena nomor handphone ini hanya beberapa orang saja yang tahu. Aku tidak berharap bahwa itu telefon dari Mas Andit. Seperti itulah aku memanggilnya. Aku terkejut sekali. Aku tidak terbiasa menerima telefon dari lelaki yang bukan keluargaku. Aku sengaja tidak menjawab telefon dan mematikan nada deringnya. Aku sangatlah pemalu sebagai seorang remaja. Tidak seperti remaja kabanyakan yang jika ditelefon oleh sosok yang seperti Mas Andit—pasti akan menjawabnya dengan senang hati dan penuh percaya diri.
Aku bertambah bingung bercampur heran ketika ia menelefonku untuk yang kedua kalinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak biasanya Mas Andit menelefonku. Setelah panggilan itu terhenti, aku mengirim pesan singkat bahwa aku adalah orang yang tidak biasa menerima telefon dari seorang lelaki. Ia membalas pesan singkatku dan mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu yang penting. Namun, aku menegaskan alasanku sekali lagi kepadanya. Setelah itu tak ada lagi jawaban darinya.
Malam hari, ketika senja sudah beranjak mendapati malam aku merasa tidak enak hati. Aku mengirim pesan singkat kepadanya dan menanyakan apakah ia marah dengan kejadian siang itu. Semenit setelah itu ia membalas, ia tidak marah sama sekali. Aku bertambah kagum saja.
“Mas, sebenarnya apa yang hendak mas bicarakan sedari tadi siang?”, lanjutku.
“Kapan-kapan saja dik, mas menunggu waktu yang tepat. Ini tentang ‘sesuatu’”, balasnya. Aku hanya mengatakan aku akan bersabar menunggu tentang ‘sesuatu’ itu.
Malam sudah mulai larut. Aku segera memejamkan mata. Di sepertiga malam-Nya aku terbangun, aku membaca sebuah pesan yang masuk. Ternyata dari Mas Andit. Ia berpesan bahwa aku harus menjaga diri, kesehatan dan tidak lupa untuk salat. Aku terdiam. Air mataku segera saja tumpah. Aku tidak mengerti apa maksud dari ucapannya. Aku bergelimang risau dan takut kehilangan.
Aku segera berwudhu dan bertahajud kepada Yang Maha Menguasai hati. Aku mengadu kepada-Nya tentang segala yang aku rasakan. Tak terasa adzan subuh berkumandang sayup. Aku berdzikir dan melaksanakan salat subuh. Selepas itu aku membaca ayat-ayat cinta-Nya. Namun, air mataku belum juga kering. Aku tertidur hingga mendengar suara pintu digedor-gedor. Aku terperanjat dan buru-buru berlari ke pintu depan. Ternyata ayah, ibu dan adikku telah pulang dari berlibur.
“Assalamualaikum”, ucap mereka serentak. Aku menyalami ayah dan ibu. Sementara adik menyalamiku setelah aku menyalami ayah dan ibu.
“Kenapa kau nak? Matamu sembab seperti menangis semalam suntuk”, ucap ibu. Ayah dan adik sudah duluan masuk ke rumah karena merasa lelah.
“Tidak bu, aku tidak apa-apa. Hanya rindu kepada ayah, ibu dan adik”, ucapku dusta. Ibu hanya tersenyum kecut seolah tak percaya. Ibu sudah tahu bagaimana watakku.
Beberapa hari berlalu, Mas Andit juga tak ada kabarnya. Aku yang biasanya manja kepada ayah dan ibu menjadi pendiam dan suka mengurung diri di kamar. Ibu masuk ke kamarku dan melihatku berlinang air mata. Pelukan hangat ibu membuatku sedikit tenang. Aku menceritakan semuanya kepada ibu. Tentang perkenalan di dunia maya dan tentang perasaanku yang benar-benar tidak bisa ku kuasai.
Tersenyumlah nak. Awan hitam selalu menyimpan pelangi. Begitupun Sang Penggenggam nyawa—Dia selalu punya rahasia dan bijaksana untuk membuat dewasa makhluk-Nya. Cinta suci sedang menunggumu. Tetapi engkau harus sabar menantikan. Cinta itu akan menjemputmu di masa yang telah Dia rencanakan.”, ucap ibu kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan.
Seperti malam-malam sebelumnya, aku tetap bermunajad kepada Sang Ilahi. Aku masih berdo’a dengan hal yang serupa, meminta-Nya untuk menjaga dan melindungi Mas Andit dimana pun ia berada. Pikiranku selalu tergugu karena pesan terakhirnya. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Entah perasaan apa yang tumbuh dan berkembang di hatiku—pernah bertatap muka dengannya pun tidak. Baru kali ini aku seperti ini.
Aku menguatkan hati—tak henti memuji asma-Nya seiring hembusan nafas, detak jantung dan denyutan urat nadiku. Jilbab yang semula hanya sekadarnya saja menutupi hijabku, ku ganti dengan jilbab yang lebih panjang dan lebar. Aku benar-benar ingin mencurahkan cintaku hanya kepada-Nya tanpa memikirkan makhluk-Nya lagi. Aku pergi keluar untuk menghirup udara pagi dan menyapu halaman. Adikku yang melihatku yang telah berubah mengatakan pakaianku seperti dodol yang dibungkus rapat. Aku memakai jilbab lebar berwarna biru muda dan gamis kala itu. Adikku tersenyum ringan.
Dari jauh aku mendengar suara mesin mobil yang ramai menuju rumahku. Aku tercengang karena mobil-mobil itu berhenti di halaman rumah. Aku masuk ke dalam rumah dan memanggil ayah dan ibuku, sedangkan adikku tetap berada di halaman depan. Aku melihat seorang lelaki muda keluar dari mobil dan membawa dua orang tua serta beberapa kerabatnya. Aku menundukkan pandangan ketika lelaki itu melirik ke arahku. Ibu dan ayah menjamu mereka serta membawa mereka duduk di ruang tamu.
Ayah menanyakan maksud kedatangan keluarga itu, sementara aku dan ibu menyiapkan minuman di belakang. Selang beberapa waktu, adikku menyusul kami berdua ke belakang dan mengatakan bahwa lelaki itu datang untuk melamarku. Aku beku. Diam-diam ku lihat lelaki itu dari celah pintu dapur. Ternyata, ia adalah Mas Andit. Aku mengharu biru. Tiada yang mustahil jika Allah sudah berkehendak. Allah menghadiahkanku pernikahan di usia muda atas penantianku. Janji Allah adalah tepat dan benar adanya. "Dan perempuan baik adalah untuk laki-laki baik dan laki-laki baik adalah untuk perempuan baik pula" (QS. an-Nur : 26).***

0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Posting Komentar