Rabu, 18 April 2018

Puisi | Kunci Hati


Untuk yang ke sekian, kata itu kamu simpan
kamu pendam dalam-dalam
kadang ingin kamu ungkapkan
Namun di ujung lidah ia tertawan

Denting waktu tak lagi berpihak
Dadamu penuh sesak
Doamu tak lagi mengiba
Kini malah penuh titah

Sebagai seorang hamba
Bagaimanakah ia
menghadapi cinta
yang merahasia?

Rindumu terpendam
kamu terluka dalam
harapan bertamu duka
Kamu pongah, lantas lengah

Kini kamu belajar lagi
Bagaimana mengemudi hati
Bagaimana cinta adalah uji
Bagaimana cinta dari-Nya adalah kunci

Cadika, 21 Maret 2018

_______
DP Anggi
Selamat Hari Puisi Sedunia!

Selasa, 17 April 2018

FF | Setangkai Bunga di Kepala Ibu

Aku tak tahu sejak kapan orang-orang menatap dingin ke arahku, atau mungkin ke arah ibu. Tatapan dingin ini terasa menyakitkan. Berulang kali aku meminta ibu agar pindah dari desa ini, ibu tak mau. Ada hal-hal yang selalu ibu pertimbangkan, entah apa itu.

“Tundukkan kepalamu jika tak ingin memiliki hati yang beku seperti mereka,” bisik ibu. Aku hanya menunduk lantas menyimpan tanya hingga tiba di rumah.

“Bu ...,” aku membuka percakapan. Saat itu, ibu telah membuka tudung di kepalanya. Lalu muncul setangkai bunga berwarna putih.

“Kapan aku memiliki bunga yang indah seperti ibu? Mengapa orang-orang di luar sana tidak memiliki setangkai bunga di kepalanya? Mengapa setiap kita keluar rumah mereka menatap dingin?” Pertanyaanku berloncatan. Entah mana yang akan dijawab ibu lebih dulu.

“Dahulu, mereka memiliki setangkai bunga di kepalanya. Lalu, di suatu hari yang kemarau, angin bertiup kencang. Mereka berhamburan keluar rumah dan berharap hujan segera turun agar bunga di kepala mereka tidak layu. Belum sempat ibu keluar rumah, angin kencang itu membawa bunga-bunga di kepala mereka. Sejak saat itu, tatapan mereka dingin, satu persatu dari mereka menghilang entah ke mana. Jangan khawatir, tak lama lagi akan ada setangkai bunga di kepalamu.” Aku tersenyum, lalu terlelap di pelukan ibu.

Esok hari, aku tak menemukan ibu. Setangkai bunga milik ibu, telah mengakar di kepalaku. Aku tak ingin setangkai bunga jika tak ada ibu. Berwaktu-waktu kemudian, aku telah menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki tatapan paling dingin—aku memeluk ibu dalam ingatanku. Setangkai bunga dari ibu telah layu.

________
Greenhill, 07 April 2018
DP Anggi

Rabu, 07 Maret 2018

Halte Bus, Seseorang, dan Kenangan

source: devinArt

Sebuah bus kota melaju di suatu senja yang sepi
Langit lindap, dan mulai nyala lampu-lampu
Seseorang hanya duduk diam mengamati
Ada kerisauan di kedua matanya yang sayu

Lalu, seseorang itu turun di halte sudirman,
mampir di sebuah cafe seberang jalan
“Apakah kaulihat pria yang berjanji atas nama Tuhan di kafe ini?"
Tanyanya pada penjaga kasir yang merasa heran, salah orang barangkali

Senin, 26 Februari 2018

Keinginan Jatuh Cinta



 
Engkau terperangkap di bola mataku mula-mula
Setiap kata yang kautulis di mataku berubah bunga-bunga
Dan selalu ada rindu berbentuk awan saat pandangku jauh menerawang
Meluncur namamu, doaku ingin merangkak juang

Namun, semesta tak selalu meramu restu
Gerimis yang mengendap di hatiku, seketika penuh
dan menggerimis kemudian di kedua mataku
Kamu hanya tinggal kenang dan jadilah aku bagian yang tak utuh

Cerita yang Tak Usai


Sampai hari ini, ada pertanyaan yang hiruk-pikuk di kepalaku. Tak ada yang bisa memberi jawaban terhadap pertanyaan itu selain kamu. Namun, sejak hari itu, sejak hari aku merasa kita sudah begitu dekat, ternyata saat itu dan hari berikutnya kita benar-benar menjadi orang asing yang tak pernah saling kenal sebelumnya.

Hari itu, di hari ulang tahunmu, aku memberi sebuah kejutan. Sebuah ucapan sederhana yang kaubalas dengan sebuah senyuman dan pelukan terimakasih. Tentu aku bahagia sebab merasa inilah masa yang kutunggu sejak awal mengenalmu. Namun, kamu, adalah perempuan yang tak bisa ditebak, sebentar terlalu kaku dan dingin, tak lama kamu begitu hangat. Segala tingkahmu adalah misteri yang rahasia hingga pada hari-hari setelah aku memberimu kejutan, dirimu membuatku mengaminkan semua kesimpulanku itu.

Berulang


Senja beringsut malam, ia tertunduk seorang diri
Sekelebat kenangan mula-mula menghampiri
Memaksa masuk menelusuri peti-peti memori yang dulu ia pasung rapi
Lalu, di kedua matanya yang kosong itu, seorang perempuan tengah duduk mengamati

Dahinya mengernyit, di lidahnya kata-kata telah menjelma es batu
Di dalam jantungnya, ia menggerutu
"mengapa kini bahkan saat rindu itu datang,
Aku seperti kaset rusak yang harus diperbaiki atau mungkin dibuang?"

Meraih Makna Cinta


doc. pribadi
“(Mungkin) jatuh cinta itu sederhana. Sesederhana ketika kita menginginkan pelangi, namun untuk melihatnya saja, kita harus melewati hujan dan panas yang silih berganti.”
Hari ini, adalah September di tahun kedua. Di antara kabut asap yang sempat menyelimuti, aku terus saja merajut kesibukan dan menyerahkan diri pada kesepian. Bukan menyepikan diri, hanya saja aku benar-benar merasa belum menemukan diriku yang utuh. Kesibukan pun, sengaja kupadatkan agar hatiku tak selalu bertanya, “Bagaimana rasanya jatuh cinta?”

Aku mendengar dari teman-teman sejak pendidikan dasar, perguruan tinggi hingga kini bekerja, jatuh cinta hanya indah awalnya, nelangsa akhirnya. Jatuh cinta bisa berkali-kali dan patah hati pun lebih dahsyat dari itu. Aku sempat membayangkan, jika hati itu adalah ban. Bagaimana bisa ban yang itu dibocorkan berkali-kali lalu ditambal-tambal lagi? Seperti apa bentuk ban itu?

Perempuan yang disibukkan oleh cinta—menurutku, selalu ingin berada didekat orang yang ‘katanya’ ia cintai. Tetapi, yang membuatku bingung adalah, perempuan ini selalu minta untuk dihampiri. Maksudku, mereka jarang sekali bicara lebih dulu sebelum lelaki bicara. Mereka takkan mengungkapkan rindu secara langsung melainkan dengan sindiran saja. Mereka menjadi lebih aneh, lebih aneh daripada saat mereka belum disibukkan cinta. Bukankah cinta itu, ‘katanya’ saling memberi dan menerima? Kenapa ini maunya menerima saja?