Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Oktober 2013

Curahan Hati Seorang Ibu


Dalam derasnya hujan ibu mendekapmu. Menenangkanmu saat kilat menyambar dan petir menggelegar. Ibu biarkan engkau terlelap dalam dekap. Lalu ibu pindahkan engkau perlahan ke tempat tidur, memastikan selimutmu nyaman dan tidak akan membiarkanmu bermimpi buruk.

Ibu perhatikan engkau, Nak. Ibu lihat kakimu yang biasa tertatih telah memanjang. Tanganmu yang biasanya hanya bisa memukul-mukulkan sendok plastik ketika makan sudah kuat menggenggam. Engkau sudah bisa melompat walau sesekali. Engkau sudah bisa melempar bola walau belum jauh sekali.

Setelah pagi menjelang, ibu membawamu ke halaman.

Minggu, 04 Agustus 2013

Surat Cinta Sederhana DP Anggi, Untuk...

Ilustrasi : izzysabki.wordpress.com
 *
Hujan di hari ke-tiga Agustus. Asaku hampir terputus. Di Ramadhan yang hanya tinggal menghitung hari, aku berusaha mengingat kapan pertama kali engkau melihat dunia. Kapan pertama kali engkau menangis dan tertawa. Engkau tak suka pesta. Tak suka diberi hadiah. Pada suatu ketika, akhirnya engkau tertawa lepas di depan kue berlilin yang sudah kutata. Hanya sekali itu saja. Dan selanjutnya takkan pernah. Senyum yang renyah itu berderai—gurih, hingga menampakkan gerahammu. Hanya itu senyum dan tawa yang paling kuingat.
Wajah khawatir kala itu, adalah ketika

Minggu, 23 Juni 2013

Lomba Menulis Surat Bulanan FAM "Detik-detik Berbuka Puasa"




“Detik-Detik Berbuka Puasa”

Lomba Menulis Surat Bulanan di Grup FAM Indonesia 

______________________________________________



Pekanbaru, 23 Juni 2013

Assalamualaikum wr wb

Kepada Yts. FAMili

Di Bumi Allah Swt..



Apa kabar dirimu FAMili? Apa kabar pula imanmu? Sudahkah engkau menyongsong Ramadhan kali ini dengan memperbanyak ibadah? Sudahkah engkau menyambutnya dengan penuh gembira dan suka cita?

Aku, sudah begitu lama tidak mengikuti lomba-lombamu. Aku sebenar malu. Tapi, apalah daya. Kuakui aku sering memperturutkan egoku. Aku masih begitu sulit mengatur jadwal di sela-sela rutinitas keseharian. Kali ini, aku tak mau kalah. Aku harus berkontribusi tak peduli rutinitas yang menanti.

Selasa, 11 Desember 2012

Lomba Menulis Surat untuk FAM INDONESIA (Part II)


Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum wr wb.,
Teruntuk, FAM Indonesia (Surat kedua)

FAM, bagaimana kabarmu malam ini? Masih sudikah membaca gerak jemariku? Sahabat FAM, apa kabar? Semoga kita adalah orang-orang yang tetap terpelihara dalam hidayah Allah, serta selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Aku masih ingat, saat pertama kali mengenalmu. Aku masih ingat, betapa aku butuh keluarga baru untuk menguatkan niatku dalam menulis. Jemariku mulai nakal mencari-cari sebuah rumah baru. Bukan kebetulan, aku menemukanmu. Mencoba mendekatimu, mencoba mengetahui lebih banyak tentangmu.

Aku merasa, kau adalah sebuah hadiah yang memang Allah berikan untukku. Aku punya sebuah rahasia, maukah kau mendengarnya? Kau adalah hadiah dari Allah, mengapa? Karena, setelah berhijab, kau hadir tanpa kebetulan, setelah berhijab, semangatku semakin berkobar. Dulu, aku tidak seperti sekarang ini. Tapi, apa peduli dengan masalalu kelam itu? Aku katakan sekali lagi, kau hadiah terindah yang Allah beri untukku sebagai hadiah dari keinginan kuatku untuk tetap ingin mendekati-Nya.

Lomba Menulis Surat Untuk FAM INDONESIA (Part I)


Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamualaikum wr wb.,
Teruntuk, FAM Indonesia

FAMku yang selalu hangat, apa kabar? Semoga setiap kita selalu dalam lindungan Allah SWT.. FAM, kau semakin manis sejak awal aku mengenalmu. Kau membangkitkan semangat penaku untuk menari di atas imajinasi. Kau, adalah salah satu tangan Tuhan yang membantuku untuk menulis.
 
Dengan napas rindu, aku mencoba memaksa diri untuk tetap menulis surat kepadamu malam ini. Sudah tiga hari, aku merasa ada yang tidak beres dengan kesehatanku. Tubuhku panas, kadang menggigil. Aku berjuang dengan tertatih, memacu kakiku untuk tetap mencari ilmu di perkuliahan. Sesambil pulang, aku mencoba membaca alam. Semua tertulis disini, karena aku begitu rindu. 

FAM, aku pernah melakukan hal-hal aneh hanya untuk menangkap ide atas siasatmu. Membaca alam membuatku selalu memegang pulpen dan sebuah buku ketika pulang kuliah. Setiap ide itu lewat,