Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Oktober 2013

Gadis dalam Gerobak


*

Ridan adalah sebuah desa yang terletak di sebuah bukit yang jauh sekali dari keramaian kota. Mata pencaharian penduduk di desa itu pada umumnya adalah berkebun. Pagi-pagi sekali bapak-bapak di desa itu sudah meninggalkan rumahnya untuk berkebun, termasuk Bapak Haira. Bapak Haira bekerja di kebun Ubi Madu milik Pak Rusdin. Tapi, itu dulu saat Bapak Haira masih hidup.

Haira adalah gadis kecil dua tahun yang menggemaskan. Rambutnya keriwil dan matanya bulat, begitu juga hidungnya. Setelah selesai membereskan rumah, Ibu Haira menanti Bu Dutmini dengan kereta kudanya—seseorang yang biasa mengantarkan cuciannya ke rumah Ibu Haira. Biasanya cucian itu akan diantar ke rumah Bu Dutmini satu kali seminggu setelah pakaian bersih menumpuk. Ibu Haira mengantarkannya dengan gerobak karena rumah Bu Dutmini cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Di dalam gerobak

Sabtu, 22 Juni 2013

The Love Story Of Deyoungforest (2)


“Lalu, kau biarkan dahan-dahanmu rapuh tergerus masa…”
“Apalah dayaku, aku pun telah lama menantinya…”
“Apalagi yang akan kau nanti? Kekupu biru? Ia telah pergi! Telah lama mati!”
“Jangan katakan itu padaku! Sudah saatnya aku memaknai diri. Mengapa aku ada di bumi ini,”
“Lalu?”
“Aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku akan berkorban,”
“Berkorban untuk apa? Untuk siapa?”
“Karena kekupuku telah tiada, aku akan berkorban untuk manusia,”
“Kau betul-betul seperti Bul-Bul. Apa gunanya kau mati demi manusia? Sedang manusia tak pernah peduli!”

The Love Story Of Deyoungforest (1)


Layaknya cinta tragis di dunia ini. Rumput liar dan mawar berduri mati oleh semasing ego yang tertanam dalam diri. Semasing mereka tak ingin melukai. Tapi, akhirnya hidup mereka hanya tinggal sejarah yang nisbi. Tinggallah matahari yang juga sempat ego, yang tak ingin memberikan sinarnya kepada semesta raya. Tinggallah teras tua, yang kian berlumut dan lampu neon yang kian redup. Sesekali angin membelai, membuat dedaunan terkulai.

Akulah, akulah bagian dari kisah ini. Bagian dari kisah sunyi. Yang saat itu hanya tinggal bisikan hati yang perih. Aku ada karena sempat mati terinjak di bawah tanah retak. Matahari begitu menyayangku. Katanya, aku mirip dengan Rumput Liar teman lamanya itu. Ia kerap bercerita tentang masa lalu. Aku sudah lelah untuk menasehatinya. Bahwa, masa lalu hanya kaca spion yang boleh dilihat sesekali saja. Bukan setiap hari, karena

Jumat, 15 Februari 2013

Kehidupan Para Burung

Oleh DP Anggi


Dari atas sini, aku terbang sebebas mungkin. Sangat bebas bahkan. Tak perduli akan tersesat, karena pasti akan Tersesat Di Jalan Yang Benar. Kenapa? Karena Allah bersamaku. Aku bebas melakukan apa saja. Tidak susah payah turun ke tanah dan mengantri panjang di pertamina. Aku tidak perlu turun mesin. Masuk bengkel, atau kehabisan oli. Aku juga tak perlu membuat SIM. Tak perlu E-KTP. Aku hanya butuh makan dan minum saja, lalu parkir sebentar di pohon untuk istirahat. Tentu, tidak pakai retribusi.