Tampilkan postingan dengan label Monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monolog. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Cerita yang Tak Usai


Sampai hari ini, ada pertanyaan yang hiruk-pikuk di kepalaku. Tak ada yang bisa memberi jawaban terhadap pertanyaan itu selain kamu. Namun, sejak hari itu, sejak hari aku merasa kita sudah begitu dekat, ternyata saat itu dan hari berikutnya kita benar-benar menjadi orang asing yang tak pernah saling kenal sebelumnya.

Hari itu, di hari ulang tahunmu, aku memberi sebuah kejutan. Sebuah ucapan sederhana yang kaubalas dengan sebuah senyuman dan pelukan terimakasih. Tentu aku bahagia sebab merasa inilah masa yang kutunggu sejak awal mengenalmu. Namun, kamu, adalah perempuan yang tak bisa ditebak, sebentar terlalu kaku dan dingin, tak lama kamu begitu hangat. Segala tingkahmu adalah misteri yang rahasia hingga pada hari-hari setelah aku memberimu kejutan, dirimu membuatku mengaminkan semua kesimpulanku itu.

Rabu, 18 September 2013

September Tanpa Memori



September tak lagi indah bagiku. Ingatan memudar, hatiku membelukar. Semua hilang termasuk wujudku. Lenyap, termasuk jarakku dan engkau. Engkau. Ya, engkau yang membuatku menjadi seperti sekarang; merangkak tiada tujuan, meraba tiada pegangan.

Wajahku kian pasi dengan warna bibir tak berdarah. Jasadku terguncang di antara sobekan kecil kertas putih yang berubah abu: ternodai rintik hitam dosa-dosa. Kakiku, tanganku, sendi-sendiku pun terasa kaku tak berdaya. Aku mematung di antara dua dinding atas-bawah, dua dinding di kiri-kanan yang gulita.

Senin, 09 September 2013

Di Sepanjang Bukit Cadika


*
Aku ingin engkau mencintaiku. Bukan, bukan seperti kapas yang mudah terbakar api. Bukan pula seperti debu yang segera lenyap tersiram rintik pagi. Tapi, seperti awan yang setia memayungi gunung. Seperti akar yang senantiasa menopang batang hingga daun. Tak pernah bosan, hingga kembali menyatu pada tanah, menjadi hara dan harapan untuk pucuk-pucuk baru.

Aku ingin ada di hatimu. Namun, tak ingin mendurhaka lalu memalingkan wajah dari Sang Pencipta. Persis seperti daun jatuh yang takkan pernah kembali kepada ranting. Seperti kuncup basah yang mekar lalu melupakan angin.

Jumat, 23 Agustus 2013

Monolog: Pada Senja yang Sama


Ilustrasi : www.islamedia.web.id 
*
Kisah kita ketika itu adalah embun yang enggan menyatu dengan daun. Ia lebih mudah menimpa tanah dan bertahan di sana hingga menggurun. Bukankah sama seperti saat aku memaksa diriku untuk merindu? Membiarkanmu kian jauh dan aku sibuk dengan kesepianku. Membiarkan air mataku tumpah di sajadah dan memuncak di sepertiga malam yang dikara.

Pertemuan kita saat itu, adalah ucapan salam yang tertahan di ujung lidah dan menggenang di lubuk hati. Ia tak ingin terucap meski ingin sekali menyampaikan. Bukankah sama seperti lilin-lilin yang terpaksa mati sebelum habis terbakar ketika angin mendekapnya?