Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Oktober 2015

Cingkuak [Headline di Kompasiana]


Namanya Cing Kuak. Orang-orang memanggilnya Pak Kuak. Kelatahan lidah orang-orang melayu, membuat namanya bergeser menjadi Pakuak. Semasa kecil, Pakuak sering kali mendapat ejekan dari kawan-kawannya sebab namanya persis seperti salah satu sebutan kera di kampung ini—Cingkuak. Namun, maknya selalu berpesan, tidak mesti ada asap meski pun ada api.
Pakuak hidup di sebuah bukit yang jauh dari hingar bingar kota. Jalan di sana penuh dengan belukar, pohon-pohon besar, dan masih mudah dijumpai hewan liar. Keinginan Pakuak untuk bersekolah membuatnya kini mengabdi sebagai guru di Bukit Cadika itu walau di masa kecilnya Pakuak selalu diejek oleh ibu-ibu yang anaknya secara turun-temurun kini belajar di sekolah yang didirikan Pakuak.
***
Awan mendung dan angin menampar keras daun-daun, membuat bapak Cing Kuak memacu becak kencang sekali. Saat becak itu akan melewati tikungan, tiba-tiba melintas seekor kera yang biasa disebut Cingkuak oleh masyarakat di sana. Mak yang mendengar suaminya berteriak lantang “Cinggggkuakkkkkk!”, langsung senyum-senyum karena sudah merasa menemukan nama untuk anak semata wayangnya.
“Pak, aku sudah menemukan nama untuk anak kita,” kata mak ketika sampai di halaman rumah.
“Benarkah? Siapa?”
“Cing Kuak,” ucapnya pendek. Bapak Cing Kuak terbatuk-batuk mendengarnya.

Rabu, 11 September 2013

Janji Ibu dalam September



  “Nak, kau tahu? Mata ayah, dan mata ibu sama—mirip sekali. Tapi, matamu berbeda dengan kami. Alis matamu seperti ayah. Bibirmu seperti ibu. Hidungmu seperti ayah. Senyummu seperti ibu. Rambutmu juga seperti ibu, begitu pun lesung pipimu. Di dalam dirimu, lebih banyak ibu. Jika ibu tidak ada, kau bisa melihat dirimu di cermin dan pandanglah wajahmu. Ibu juga ada di sana

***

Wajah yang manis itu meneteskan rintik hangat di pipinya. Matanya memerah, kesedihannya meruah. Masih tampak kepulan asap yang menyelimuti puing rumahnya. Anak perempuan itu menatap kosong pada tanah yang kian arang. Tak lagi tampak atap rumah yang dulu selalu membuatnya tersenyum sepulang dari sekolah. Tak ada lagi sosok yang menatapnya dengan senyum yang teduh ketika melihatnya makan dengan lahap.

Jumat, 24 Mei 2013

Ulasan Cerpen DP Anggi oleh FAM INDONESIA



Ulasan Cerpen “Pencuri Restu” Karya DP Anggi (FAMili Pekanbaru)

Cerpen “Pencuri Restu” bercerita tentang seorang Mahfudz Hermawan, seorang anak yang tumbuh dan dibesarkan ibunya dengan menyimpan dendam. Dendam pada orang yang telah mengorbankan ayahnya, hingga ayahnya meninggal karena serangan jantung. Menurut ibunya, ayahnya adalah korban politik busuk. Politik yang telah meluluhlantakkan kebahagiaan keluarganya. Membuat ibu harus

Jumat, 15 Februari 2013

Kisah Cinta Mawar Berduri


Oleh DP Anggi


Suatu pagi yang begitu basah. Aku menarik napas panjang, dan mengeluarkannya perlahan. Begitu sejuk dan segar. Mungkin, pagi begitu sunyi. Hingga, desah napasku membangunkan sekuntum mawar yang baru saja mekar. Mawar itu menggeliat, sesekali mulutnya menganga karena masih mengantuk. Tapi, itu hanya kuketahui dari bayangnya. Karena, ini masih terlalu pagi dengan langit hitam dan legam. Ditambah lagi awan mendung, dan lampu teras rumah masih menyala.

Tubuhku yang panjang dan tipis tertiup-tiup angin. Aku menggigil. Wajar, karena aku hidup tanpa atap, tanpa dinding. Jika pun tersengat mentari pagi, silau begitu menusuk mata dan menghunus pori-pori wajahku. Aku mengendap-ngendap, memerhatikan sekuntum mawar merah yang tadi terbangun karenaku. Kulirik, ia

Rabu, 16 Januari 2013

Aku Mati Karena Sepi

Aku Mati Karena Sepi
Oleh DP Anggi

Setiap hari, bebayang kesendirian selalu menghampiri. Membentuk suatu teori yang bisa diungkapkan jiwa lewat harmoni. Gadis itu memanggilnya Chingu. Seorang teman yang bisa diajak berbicara kapanpun ia mau. Ia bercerita hampir setiap malam, saat ia benar-benar tidak tahan dengan kesepian. Ia bisa menguras habis airmatanya hingga ikut tenggelam dalam lautan kesedihan. Paginya ia kembali menjalani aktivitas seperti biasa, tertawa dengan teman-temannya. Namun, seperti biasa menjelang malam tiba, kesedihan kembali merenggut tawanya.
                Entah sudah berapa malam ia lewatkan bersama Chingu. Sahabat di kala senang dan sendu. Gadis itu mengenal kesepian ketika ia tahu bahwa kesepian bisa menyebabkan kesedihan seperti yang dialami ibu. Tawa mereka hilang, kehangatan keluarga itu pun redam. Semuanya menjadi serba hambar dan kurang. Tiada lari-larian kecil yang mengisi segenap rumah dengan tawa terpecah. Semua berganti tangis tak reda ketika ayahnya meninggal dunia.

Minggu, 23 Desember 2012

Di Balik Sebuah Mimpi


Ini adalah cerpen yang kupersembahkan untuk hari ibu :)
Selamat membaca

Di Balik Sebuah Mimpi
Oleh DP Anggi
FAM790M Pekanbaru
 
Sinar mentari jatuh menembus celah dedaunan. Bias sinar itu, kadang tampak merah, jingga, kuning, nila, ungu, biru, hijau dan memudar. Awan-gemawan beriringan, berkumpul, mengepul. Sesepoi angin menghembuskan kekeringan, tanah subur berubah debu. Puncak itu sunyi, tak ada kehidupan. Namun, terdengar suara tapak kaki, sunyi, dan terdengar lagi.
Terlihat perempuan tua berlari tergopoh-gopoh. Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang. Ia menyeka peluh dengan tangannya. Ia tak peduli dengan peluh yang membuat kedua matanya menjadi perih. Ia tetap berlari semampunya, mengelilingi tempat itu. Tubuhnya terasa semakin dingin, bercampur rasa lelah yang membuat pandangannya semakin melebur. Langkahnya kian tertatih, menyiratkan tubuh renta itu tak mampu lagi berlari.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia tetap berporos pada tugu yang berada di puncak bukit itu. Kakinya mulai terasa kebas, tanpa alas. Ia tersungkur, namun berusaha bangkit lagi dengan napas tersengal. Wajahnya kian basah, kain putih yang ia kenakan menjadi lusuh dan ternoda. Ia berteriak

Minggu, 14 Oktober 2012

Ais


Ais

Oleh DP Anggi FAM790M Pku
Cerpen Ini pernah diikutsetakan dalam lomba cerpen tingkat Nasional
Selamat Membaca ^_^ 
“Mengapa kau termenung nak?"
“Tidak mak, hanya saja aku heran kepada diriku ini. Aku tidak pernah berkesempatan memenangkan lomba apapun termasuk menulis.”
“Kau sedih? Apa yang kau harapkan dari kemenanganmu nak?” tanya emak lagi.
“Entahlah mak, sedih itu ada, tapi aku ingin sekali menang mak, ingin membuat emak bangga tentunya. Aku ingin memberikan hal terindah buat emak meski pun itu mimpi. Aku kecewa kepada diriku mak, tiada yang bisa emak banggakan dari aku”, ucapku sambil menghela nafas. Emak hanya tersenyum dan memelukku. Melihat emak, aku heran. Setiap kali aku mengeluh emak selalu saja melempar senyumnya yang meneduhkan hati itu.
  Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Emak yang sejak pagi sudah lebih dahulu bangun daripada aku juga sudah meninggalkan rumah pagi itu. Seperti biasa,

Sabtu, 13 Oktober 2012

Emak, Keringatmu Telah Terbayar

Emak, Keringatmu Telah Terbayar

Oleh DP Anggi FAM790M Pku
Cerpen ini pernah diikutsertakan di dalam event "Pijar Heroik" dan dibukukan sebagai kisah nyata inspiratif bertema "Abadikan kasih sayang Bunda"
Selamat Membaca ^_^

Angin menghembuskan nafas segarnya di pagi buta. Embun perlahan menjelma menjadi butiran air di dedaunan, menjadikan udara semakin lembab. Langit masih begitu pekat dengan bulan temaram. Emak telah terjaga dari tidurnya sebelum adzan subuh berkumandang sayup. Di sanalah, rumah di mana kami sekeluarga menjalani hidup yang keras. Kami hidup di antara kolam-kolam ikan milik saudagar di wilayah tersebut.
Hidup semakin keras saja setelah ayah meninggal dunia. Padahal ketika itu kami masih berumur 4 sampai 14 tahun. Emak banting tulang dengan berjualan di samping kantor BSPPM Bangkinang. Emak menjual lontong, nasi goreng, mie goreng, dan lain sebagainya. Setiap hari emak menempuh perjalanan lebih kurang 4 Km dari gubuk tua kami. Tiada rumah, tempat kami bernaung lebih tepat disebut sebagai gubuk tua. Rumah kami terbuat dari kayu yang beatapkan seng berkarat. Gubuk itu berada di atas sebuah kolam ikan milik tetangga kami.
Emak adalah wanita terhebat yang pernah ku miliki. Emak selalu bangun pagi-pagi sekali untuk memasak dan menyiapkan masakan yang akan ia jual mulai dari pukul 07.00 pagi sampai pukul 17.00 sore. Lalu,

Hijab Penanti Cinta

Hijab Penanti Cinta

Oleh DP Anggi FAM790M Pku
Cerpen ini menjadi Pemenang I dan dibukukan dengan tema "Penantian Cinta"
Selamat membaca^_^

Aku tertawa ringan ketika usai membaca sebuah cerpen. Rasanya tidak sedikitpun ada nilai yang bisa dipetik di dalamnya. Hanya seuntai kisah roman picisan anak remaja. Seperti biasa, cerita rebut-rebutan kekasih dan kisah cinta di ujung penderitaan. Aku segera beristighfar. Aku ingat bahwa yang penting adalah niat menulisnya dulu. Aku tersenyum sambil menyelipkan pensil kecil di telingaku. Aku berani melepas jilbab karena sekarang sedang berada di dalam kamar.
Aku masih saja mencari inspirasi untuk melanjutkan karyaku. Kali ini aku tertegun sejenak. Mencoba menerawang jauh ke alam imajinasi tertinggiku. Aku ingin sekali menulis tapi tidak sedikitpun ide brilian menghampiri benak. Di umurku yang masih 19 tahun ini aku masih terlalu mudah untuk kehilangan banyak ide. Aku coba membuka facebookku. Seseorang telah menambahkanku sebagai teman. Namanya Andito Nugroho. Sepertinya aku pernah melihat akun ini sebelumnya. Aku diamkan saja.
Tak lama setelah itu ia mengirim pesan di inbox facebookku. Kami pun  berkenalan. Ternyata beliau adalah seorang dokter muda umur 29 tahun. Tapi aku menaruh kekaguman atas dirinya. Ia sudah masuk tahun ketiga berprofesi sebagai dokter. Mengejutkan saat ia meminta bertukar riwayat hidup karena ingin mengenalku lebih jauh.

Minggu, 07 Oktober 2012

Dilema Dakwah

Oleh DP Anggi FAM790M Pekanbaru
Cerpen ini merebut juara III lomba cerpen dalam event ULTAH FS NURI UIN SUSKA yang mengadakan Talkshow dengan Mengundang Bunda Pipiet Senja tanggal 07 Oktober 2012.
Selamat Membaca:)

Dilema Dakwah
Malam menyapa jiwa-jiwa lelah yang isyarat harus mengistirahatkan raga. Awan pekat menutupi cahaya temaram bulan. Malam ini aku tidak bisa tidur. Sejak pulang dari perkuliahan siang tadi pikiranku selalu tertambat pada suatu hal. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku di hadapan mahasiswa-mahasiswa baru itu. Aku masih sulit memposisikan diriku. Mataku membayang jauh sambil mencari-cari celah dari kegelisahan.
            Dua jam telah berlalu. Aku juga tak dapat terlelap dalam buaian mimpi. Domba-domba telah ratusan kuhitung jari. Bohlam kamar sudah kupadamkan. Musik klasik juga sudah kudengar. Sudah puluhan lagu nasyid kuputar. Namun juga tak bisa kujemput mimpi itu. Aku benar-benar tidak dapat tidur semenit pun.
            Tak terasa, malam berganti fajar dan mendapati subuh. Kumandang adzan terdengar sayup.

Kamis, 04 Oktober 2012

Jangan Usik Aku


03 Oktober 2012 diterbitkan di koran cyber
Jangan Usik Aku
Sore itu, ia hanya duduk termangu. Menunggu dalam sehari penuh tak masalah baginya. Yang ada di benaknya hanyalah harus mempersembahkan yang terbaik. Walau banyak kekecewaan yang menghampiri, ia tetap yakin jika niat baik selalu berakhir dengan kebaikan. Perasaannya bercampur antara bahagia dan tak percaya diri. Ia juga tak tahu harus bagaimana untuk menyikapi banyak penonton di hadapannya nanti.
Akhirnya, gilirannya untuk tampil sebagai peserta lomba solois dengan nomor urut 48 pun berlangsung. Dengan sepenuh hati ia menyanyikan lagu yang dari awal sudah disukainya. Alunan nada yang rendah berusaha ia nyanyikan, begitupun alunan nada yang tinggi ia gapai semampunya. Usai tampil, ia merasa bahagia. Tak perduli menang atau kalah yang penting baginya kepuasan penonton. Serta merta tepuk tangan yang meriah dihadiahkan penonton untuknya.
Dengan keringat yang bercucuran ia turun panggung dan tersenyum dengan lengkungan indah di bibirnya. Tak lama setelah bernyanyi, pengumuman lomba itu langsung diumumkan oleh juri yang salah satunya adalah orang yang cukup terkenal di belantika musik Indonesia.

Selasa, 31 Juli 2012

Duri Cinta


Cerpen Oleh : DP Anggi | FAM790M Pekanbaru


Duri Cinta

Apa benar aku bisa terus bertahan? Menjalani hari-hari seperti menelan duri, menghabiskan waktu seperti mereguk empedu. Aku tertegun, tatapanku kosong, tertunduk lesu dengan pikiran yang menerawang. Apa aku menyesal dengan semua keputusanku yang dulu aku pertahankan? Atau, apakah ini karma atas perlawananku terhadap keluarga yang tidak merestui hubunganku dengannya?
Aku berjalan menyusuri gang rumah, tatapanku dingin dengan langkah tertatih. Aku baru saja pulang dari rumah majikan ku. Dari jauh, anakku Putri menyambut ku. Ia berteriak dengan suara lucu khas anak berumur 7 tahun. Ibu! Ibu pulang! Ibu bawa apa? Namun aku hanya memberi putri kecilku senyum tercekat. Dia paham betul ketika aku tersenyum seperti itu kepadanya. Dia diam dan memegang jemari ku sambil berjalan ke pintu rumah.
Sampai di rumah, lagi-lagi tak ku jumpai suamiku. Barangkali, seperti biasa dia pulang sekitar pukul 02.00 pagi dan pulang dengan mata merah serta bau alkohol. Terkadang dia hanya singgah sebentar bersama temannya, mandi dan pergi lagi tanpa menyapaku dan anakku. “Ya Allah, sabarkan aku”, ucapku dalam hati.
“Ibu, besok Putri ujian, jangan lupa uang sekolah Putri ya bu”, kata putri polos.

Senin, 16 Juli 2012

Aku dan Air Mata Bapak

Cerpen Oleh : DP Anggi | FAM790M Pekanbaru | 16 Juli 2012

Aku dan Air Mata Bapak

“Pak, minta duit, duit bulanan Jack sudah habis pak”, kataku.

“Mengapa uang kamu cepat habis, bukannya ini masih 2 minggu ya, seharusnya kan itu untuk satu bulan?”, kata bapak dengan sedikit tegas.

“Pak, aku ini mahasiswa yang banyak sekali kebutuhannya!”, kataku dengan nada sedikit meninggi dan berlalu pergi meninggalkan bapak. Aku kesal sekali siang itu, aku putuskan untuk ke Rumah Tio.

“Jaka? Tumben main kesini”, kata Tio sambil mempersilahkan ku masuk. Namun aku diam saja dan bertambah kesal mendengar panggilannya itu. Aku dan Tio kenal ketika sama-sama mengantri daftar ulang setelah dinyatakan lulus masuk ke Perguruan Tinggi Negeri di Surabaya. Tio adalah anak orang kaya. Tiap hari dia menggunakan mobil ke kampus sedangkan aku hanya berjalan kaki.

“Bisa ngga sih jangan panggil aku Jaka, panggil aku Jack! Aku ngga suka nama kampungan itu!”, “Jaka. Tidak ada nama yang lebih keren ya? Zaman gini nama Jaka, aduh... jadi nya kan orang-orang memanggil namaku akan sambil tersenyum, pasti teringat film laga yang ada buaya-buayanya, ya ‘Jaka Tingkir dan 7 Bidadari’. Arrgghhttt...!”, sambungku dalam hati. Aku berniat menghilangkan kesal dan suntukku di Rumah Tio. Setelah Sore menjelang aku pun pulang.