Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Meraih Makna Cinta


doc. pribadi
“(Mungkin) jatuh cinta itu sederhana. Sesederhana ketika kita menginginkan pelangi, namun untuk melihatnya saja, kita harus melewati hujan dan panas yang silih berganti.”
Hari ini, adalah September di tahun kedua. Di antara kabut asap yang sempat menyelimuti, aku terus saja merajut kesibukan dan menyerahkan diri pada kesepian. Bukan menyepikan diri, hanya saja aku benar-benar merasa belum menemukan diriku yang utuh. Kesibukan pun, sengaja kupadatkan agar hatiku tak selalu bertanya, “Bagaimana rasanya jatuh cinta?”

Aku mendengar dari teman-teman sejak pendidikan dasar, perguruan tinggi hingga kini bekerja, jatuh cinta hanya indah awalnya, nelangsa akhirnya. Jatuh cinta bisa berkali-kali dan patah hati pun lebih dahsyat dari itu. Aku sempat membayangkan, jika hati itu adalah ban. Bagaimana bisa ban yang itu dibocorkan berkali-kali lalu ditambal-tambal lagi? Seperti apa bentuk ban itu?

Perempuan yang disibukkan oleh cinta—menurutku, selalu ingin berada didekat orang yang ‘katanya’ ia cintai. Tetapi, yang membuatku bingung adalah, perempuan ini selalu minta untuk dihampiri. Maksudku, mereka jarang sekali bicara lebih dulu sebelum lelaki bicara. Mereka takkan mengungkapkan rindu secara langsung melainkan dengan sindiran saja. Mereka menjadi lebih aneh, lebih aneh daripada saat mereka belum disibukkan cinta. Bukankah cinta itu, ‘katanya’ saling memberi dan menerima? Kenapa ini maunya menerima saja?

Jumat, 02 Oktober 2015

Meraih Makna Cinta

“(Mungkin) jatuh cinta itu sederhana. Sesederhana ketika kita menginginkan pelangi, namun untuk melihatnya saja, kita harus melewati hujan dan panas yang silih berganti.”
 
Doc. Pribadi
Hari ini, adalah September di tahun kedua. Di antara kabut asap yang sempat menyelimuti, aku terus saja merajut kesibukan dan menyerahkan diri pada kesepian. Bukan menyepikan diri, hanya saja aku benar-benar merasa belum menemukan diriku yang utuh. Kesibukan pun, sengaja kupadatkan agar hatiku tak selalu bertanya, “Bagaimana rasanya jatuh cinta?”
Aku mendengar dari teman-teman sejak pendidikan dasar, perguruan tinggi hingga kini bekerja, jatuh cinta hanya indah awalnya, nelangsa akhirnya. Jatuh cinta bisa berkali-kali dan patah hati pun lebih dahsyat dari itu. Aku sempat membayangkan, jika hati itu adalah ban. Bagaimana bisa ban yang itu dibocorkan berkali-kali lalu ditambal-tambal lagi? Seperti apa bentuk ban itu?
Perempuan yang disibukkan oleh cinta—menurutku, selalu ingin berada didekat orang yang ‘katanya’ ia cintai. Tetapi, yang membuatku bingung adalah, perempuan ini selalu minta untuk dihampiri. Maksudku, mereka jarang sekali bicara lebih dulu sebelum lelaki bicara. Mereka takkan mengungkapkan rindu secara langsung melainkan dengan sindiran saja.

Jumat, 23 Agustus 2013

Monolog: Pada Senja yang Sama


Ilustrasi : www.islamedia.web.id 
*
Kisah kita ketika itu adalah embun yang enggan menyatu dengan daun. Ia lebih mudah menimpa tanah dan bertahan di sana hingga menggurun. Bukankah sama seperti saat aku memaksa diriku untuk merindu? Membiarkanmu kian jauh dan aku sibuk dengan kesepianku. Membiarkan air mataku tumpah di sajadah dan memuncak di sepertiga malam yang dikara.

Pertemuan kita saat itu, adalah ucapan salam yang tertahan di ujung lidah dan menggenang di lubuk hati. Ia tak ingin terucap meski ingin sekali menyampaikan. Bukankah sama seperti lilin-lilin yang terpaksa mati sebelum habis terbakar ketika angin mendekapnya?

Selasa, 07 Mei 2013

(Tanpa) Sebuah Nama



Mereka bisa hidup, tumbuh menjadi orang besar karena sebuah nama. Sebuah nama yang begitu pantas untuk diketahui, dicari tahu dan didengar oleh semua orang. Nama-nama mereka, selalu cocok dan sesuai dengan jabatan dan profesi mereka. Namun, kadang mereka terlalu angkuh. Memandang ke bawah pun tidak mau. Lebih sering mereka membuang muka, pura-pura tidak melihat, pun mendengar kepada manusia-manusia kelas bawah. Semoga, suatu saat nanti Tuhan mengabulkan itu, dan mereka benar-benar takkan bisa melihat dan mendengar lagi.
Aku, hanya seorang lelaki yang terlewat dari keberuntungan. Yang lebih senang dipanggil sebagai lelaki tanpa nama.

Senin, 18 Februari 2013

Sang Gadis Puisi


 Oleh DP Anggi


Ke mana gadis itu? Gadis usia belasan yang setiap hari memenuhi beranda-berandaku dengan puisi-puisi manisnya. Puisi yang menyimpan jiwa sastra, serta aksara yang tak pernah lelah. Biasanya, setiap hari, tiada hari tanpa puisi baginya. Aku sudah terbiasa menikmati puisinya sambil duduk santai, dengan hati terkulai. Puisinya merasuk tajam, ke relungku terdalam.

Aku, tak pernah berani untuk menyapanya. Tak berani, meski hanya mengucap salam. Tak bernyali. Sering, hanya pada angin, kusampaikan, Apa kabarmu, gadis puisi?