Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Januari 2019

Maaf, Sayang


Maaf, sayang.
Aku belum mampu mencintaimu dengan benar.
Kadang cintaku seperti pohon-pohon yang kehilangan akar, kadang pula seperti nyala api yang membakar, panasnya menyambar-nyambar.

Maaf, sayang.
Aku belum mampu mencintaimu dengan genap.
Kerap, dukamu tak kudekap. Air matamu tak kuusap. Tawamu begitu saja menguap. Tak terperhatikan olehku, tak terpikirkan bila suatu saat bisa saja segalanya lenyap dalam sekejap.

Maaf, sayang.
Aku tak selalu mampu membuatmu nyaman. Perhatianku kadang terasa menyebalkan. Kecemburuanku begitu-begitu saja, membosankan.
Aku kekasihmu, yang sering meng-aku, mengaku-ngaku bahwa inilah cinta yang kau inginkan.

Maaf, sayang.
Jika kita telah tahu bahwa setiap cinta tak hanya membahagiakan namun kadang juga menyakitkan,
denganku, maukah engkau mengikat pernikahan?

Bangkinang, 25122018
💜DP Anggi

Rabu, 18 April 2018

Puisi | Kunci Hati


Untuk yang ke sekian, kata itu kamu simpan
kamu pendam dalam-dalam
kadang ingin kamu ungkapkan
Namun di ujung lidah ia tertawan

Denting waktu tak lagi berpihak
Dadamu penuh sesak
Doamu tak lagi mengiba
Kini malah penuh titah

Sebagai seorang hamba
Bagaimanakah ia
menghadapi cinta
yang merahasia?

Rindumu terpendam
kamu terluka dalam
harapan bertamu duka
Kamu pongah, lantas lengah

Kini kamu belajar lagi
Bagaimana mengemudi hati
Bagaimana cinta adalah uji
Bagaimana cinta dari-Nya adalah kunci

Cadika, 21 Maret 2018

_______
DP Anggi
Selamat Hari Puisi Sedunia!

Rabu, 07 Maret 2018

Halte Bus, Seseorang, dan Kenangan

source: devinArt

Sebuah bus kota melaju di suatu senja yang sepi
Langit lindap, dan mulai nyala lampu-lampu
Seseorang hanya duduk diam mengamati
Ada kerisauan di kedua matanya yang sayu

Lalu, seseorang itu turun di halte sudirman,
mampir di sebuah cafe seberang jalan
“Apakah kaulihat pria yang berjanji atas nama Tuhan di kafe ini?"
Tanyanya pada penjaga kasir yang merasa heran, salah orang barangkali

Senin, 26 Februari 2018

Keinginan Jatuh Cinta



 
Engkau terperangkap di bola mataku mula-mula
Setiap kata yang kautulis di mataku berubah bunga-bunga
Dan selalu ada rindu berbentuk awan saat pandangku jauh menerawang
Meluncur namamu, doaku ingin merangkak juang

Namun, semesta tak selalu meramu restu
Gerimis yang mengendap di hatiku, seketika penuh
dan menggerimis kemudian di kedua mataku
Kamu hanya tinggal kenang dan jadilah aku bagian yang tak utuh

Berulang


Senja beringsut malam, ia tertunduk seorang diri
Sekelebat kenangan mula-mula menghampiri
Memaksa masuk menelusuri peti-peti memori yang dulu ia pasung rapi
Lalu, di kedua matanya yang kosong itu, seorang perempuan tengah duduk mengamati

Dahinya mengernyit, di lidahnya kata-kata telah menjelma es batu
Di dalam jantungnya, ia menggerutu
"mengapa kini bahkan saat rindu itu datang,
Aku seperti kaset rusak yang harus diperbaiki atau mungkin dibuang?"

Kamis, 14 April 2016

Puisi- Puisi DP Anggi @Riau Pos 13 Maret 2016


@Riau Pos

Rama-rama

kisah yang tak kuceritakan padamu
adalah perihal luka yang semakin basah dan biru
dan kisah yang kusebutkan padamu
adalah kenangan yang masih genap di kepalaku

barangkali, kita adalah rindu yang tak diselesaikan
dan kita seperti rama-rama yang meneruskan hidup lantaran
bingung bagaimana bisa kita
lenyap dengan tiba-tiba lantas kita tak berdaya

lalu kesepianku meranggas serupa
daun jati yang menggugurkan diri
dan kesedihanku menguap menjadi air mata
; meninggalkan perih

meski waktu meninggalkan kita begitu cepat
dan lambaian tanganmu terasa begitu menyayat
"kita adalah apa yang berangkat dan tertinggal di kepala penyair
dan kita adalah rama-rama yang dirangkai indah menjadi syair-syair"

Greenhill, 09 Oktober 2015

Larut

apakah malam belum larut?
matamu nyalang dan keningmu mengkerut
apakah sebab kau masih percaya bahwa nyanyian jangkrik lebih
mirip malam ketimbang jam dinding yang menuju pagi?

Minggu, 16 Agustus 2015

Long Time No See, Puisi Saya di Indopos

Assalamualaikum sahabat
Long time no see :)


Biasanya yang sudah lama tidak mendengar kabar saya, setelah bertanya kabar, mereka juga bisa dipastikan akan bertanya, "Masih menulis?"

Sejak saya tidak sering menulis di Kompasiana.com lagi--tersebab jarang online di laptop, saya lebih sering menulis di Instagram. Saya mencoba mencari suasana baru di sana. Apalagi, saya adalah orang yang selain menulis, juga sangat senang terhadap dunia desain juga fotografi. di Instagram, saya mencoba memadukan tulisan saya, hasil jepretan dan desain gambar (photoshop).

Di Instagram, saya lebih senang berselancar sambil berdakwah, InsyaaAllah. Menurut saya, masyarakat Instagram itu unik. Masyarakat Instagram mudah memperlihatkan karakter melalui siapa yang difollownya. Akun-akun islami pun bermunculan dan peluang dakwah menjadi lebih besar. Yang lebih menarik, akun-akun islami yang followersnya ratusan ribu pun dengan senang hati akan merepost tulisan dari akun-akun yang ingin ikut berdakwah sehingga koneksi dakwah menjadi sangat luas di sana.

Kembali ke topik, "Masih Menulis?"
Ya, tentu. Meski pun terlihat tidak aktif lagi di media yang dulu melahirkan nama saya sebagai penyair (kompasiana) di artikel Kompasiana Melahirkan Penyair DP Anggi dan Satu Lagi Pensyair Berkualitas dari Kompasiana, dan juga tidak terlalu aktif di facebook (yang terlihat oleh teman-teman dan guru-guru saya yang juga kompasianer) saya tetap mengirimkan karya saya ke media cetak setelah dulu pernah terbit di Riau Pos, Indopos dan Jawa Pos.

Kabar baiknya, puisi saya kembali dimuat di Indopos. Saat itu bahkan sampai sekarang, saya tidak tahu puisi mana yang telah dimuat karena saya bahkan tahu pemuatan edisi 5 Juli 2015 ini setelah pihak Indopos menelfon saya guna meminta nomor rekening.

Alhamdulillah. Jika memang begitu, berikut puisi yang mungkin saja dimuat oleh Indopos karena puisi terakhir yang saya kirim ke Redaktur Puisi Indopos;

Sabtu, 01 Maret 2014

Puisi; Masa Lalu yang (Barangkali) Tak Ada

finela.files.wordpress.com
finela.files.wordpress.com

Aku hadir dekat pada penghujung malam
Barangkali menyapamu satu kali ketika mimpi ingin bermalam
Menuntaskan keluh dan rindu
Namun, apakah ketiadaan menyediakan waktu untukku?

Pada bus kota yang ditumpangi sepi di suatu senja
Barangkali aku memilih untuk berdiri saja
"Mengapa?" Tanya seorang pak tua
"Di sana pernah ada masa lalu yang tak ada"

Kamis, 20 Februari 2014

Puisi; Keterpisahanku dari Surga

miriadna.com*
miriadna.com
*

Keterpisahanku dari surga
Telah aku tangisi ketika terlahir ke dunia
Wajah-wajah asing menatapku iba
Akan ada dosa yang kupikul seluas semesta

Aku dikenalkan pada Sang Pencipta
Tamu Agung untuk setiap jiwa yang mencintai-Nya
Aku dikenalkan Rasulullah
Qiyadhah umat islam seluruh dunia

Aku hening dalam tangis
Bak keheningan sufi yang tak boleh dipecah oleh darwis

Selasa, 14 Januari 2014

Puisi; Dan Andai Tubuh Itu…

13897008621665991915
@Yogzan

*

Tubuh yang tergeletak itu
Dijamah malam sejak matahari tenggelam hingga subuh
Melaur mendekap tubuh yang pejal oleh udara malam
Entah, telah berapa pasang mata berlalu-lalang lalu memaki dalam diam

Pada subuh dengan embun yang turun satu-satu
Tetes-tetes halus itu direguk mulut-mulut yang menunggu
Yang itu, ya! Oleh semut yang berbaris-baris itu
Entah sedang mereguk, atau bisa saja berwudu

Sabtu, 28 Desember 2013

Puisi; Bersembunyi dalam Doa

*
Satu detik yang berlalu
Mimpi kita bertamu
Dan apa yang kualami
Juga sedang engkau alami

Hujan, kita saling mengabarkan
Entah karena alasan apa
Kita tak pernah henti melewatkan
Dan rintiknya memenuhi ruang-ruang jiwa

Terkadang, tanpa sengaja
Mata kita berlayar pada gerimis di luar jendela

Sabtu, 21 Desember 2013

Puisi; Dan Wajah Itu Kausebut Jendela

1387620910816698238
Ilustrasi: petikanbulan.wordpress.com
*
Dan wajah itu kausebut jendela
Yang setiap orang mampu melihatnya
Apakah jendela itu memberimu senyum
Ataukah padanya engkau sering melaur anum

Hatimu terlihat pada jendela itu
Seluk selumu
Juga kinasih
Melaluinya siapa pun bisa memilih

Memilih, katamu?
Ya, bahkan bisa memilih teman hidupmu

Senin, 16 Desember 2013

Puisi; Lantas Engkau Berdoa; Allah Dekap Aku

1387261728460948273
Jepretan @Yogzan

Ada kesunyian di antara langkah kakimu
Seperti tetes embun yang ragu untuk jatuh
Ke tanah yang lembap harusnya ia menuju
Namun, ia enggan meninggalkan tangan-tangan bunga itu

Lihatlah, tangan-tangan bunga menengadah
Mengambang di udara
Seperti engkau
Yang lantas berdoa; Allah dekap aku

Tubuhmu melengkung pilu

Minggu, 15 Desember 2013

Puisi; Ai, Hendak ke Mana Langkah Kita?

; Puisi untuk Shariyani
Ai, engkau mengulur tangan ke udara
Seperti ingin meraba semesta
Tidak, engkau berdoa, menangis
Hatimu teriris?

Adakah rindu yang menyesak pada hatimu?
Yang aku tak pernah tahu
Mungkin aku tak mampu berbagi luka
Karena luka di tubuhku pun tak dapat kuseka

Aku ingat, Ai
Ajakanmu yang membingkai

Sabtu, 14 Desember 2013

Puisi; Peta-Peta Air Mata




Demikian
Haruskah kusebut ini penyesalan?
Tentang masa-masa yang terlanjur hitam
Tentang seruan yang mestinya tertancap dalam-dalam

Di sejuk seruan-Nya
Kucoba telusur ilham
Terbata aku membaca
Peta hidup, jazam…

Kasa-kasa putih
Adakah pada seluk selumu hatiku

Senin, 09 Desember 2013

Puisi; Adinda, Belahan Jiwa Takkan Tertukar

: Puisi untuk Mayang Sri


Kincir-kincir menanti ditiup angin untuk berputar
Burung-burung menanti lalang kering untuk dirumahkan
Penantian Adinda, belahan jiwa itu takkan tertukar
Ia berharap pada waktunya nanti dipertemukan

Ah, awan saja menanti dirinya menghitam untuk dapat menurunkan hujan
Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sudah menempah diri menjadi shalihah?
Agar kita kelak menjadi pendamping dambaan

Kamis, 05 Desember 2013

Puisi; Ketukan Rindu

Ilustrasi: buletinilalang.wordpress.com

Oktober, pintu itu kuketuk
Tak ada jawaban
Perasaanku amuk
Kemungkinan lain sedang kupikirkan

September, aku kembali
Pada tubuh yang tetap sunyi
Pintu itu kuketuk sekian kali
Namun masih tetap dirampai sepi

Pada November dan hujan yang sama
Kutemui pintu itu lagi bersama hampanya jiwa
Akan ada yang keluar dari pintu itu, pasti
Tapi?

Hatiku
; mengapa sekeras batu

Rabu, 18 September 2013

September Tanpa Memori



September tak lagi indah bagiku. Ingatan memudar, hatiku membelukar. Semua hilang termasuk wujudku. Lenyap, termasuk jarakku dan engkau. Engkau. Ya, engkau yang membuatku menjadi seperti sekarang; merangkak tiada tujuan, meraba tiada pegangan.

Wajahku kian pasi dengan warna bibir tak berdarah. Jasadku terguncang di antara sobekan kecil kertas putih yang berubah abu: ternodai rintik hitam dosa-dosa. Kakiku, tanganku, sendi-sendiku pun terasa kaku tak berdaya. Aku mematung di antara dua dinding atas-bawah, dua dinding di kiri-kanan yang gulita.

Senin, 09 September 2013

Di Sepanjang Bukit Cadika


*
Aku ingin engkau mencintaiku. Bukan, bukan seperti kapas yang mudah terbakar api. Bukan pula seperti debu yang segera lenyap tersiram rintik pagi. Tapi, seperti awan yang setia memayungi gunung. Seperti akar yang senantiasa menopang batang hingga daun. Tak pernah bosan, hingga kembali menyatu pada tanah, menjadi hara dan harapan untuk pucuk-pucuk baru.

Aku ingin ada di hatimu. Namun, tak ingin mendurhaka lalu memalingkan wajah dari Sang Pencipta. Persis seperti daun jatuh yang takkan pernah kembali kepada ranting. Seperti kuncup basah yang mekar lalu melupakan angin.

Jumat, 23 Agustus 2013

Monolog: Pada Senja yang Sama


Ilustrasi : www.islamedia.web.id 
*
Kisah kita ketika itu adalah embun yang enggan menyatu dengan daun. Ia lebih mudah menimpa tanah dan bertahan di sana hingga menggurun. Bukankah sama seperti saat aku memaksa diriku untuk merindu? Membiarkanmu kian jauh dan aku sibuk dengan kesepianku. Membiarkan air mataku tumpah di sajadah dan memuncak di sepertiga malam yang dikara.

Pertemuan kita saat itu, adalah ucapan salam yang tertahan di ujung lidah dan menggenang di lubuk hati. Ia tak ingin terucap meski ingin sekali menyampaikan. Bukankah sama seperti lilin-lilin yang terpaksa mati sebelum habis terbakar ketika angin mendekapnya?