Sabtu, 14 Desember 2013

Puisi; Peta-Peta Air Mata




Demikian
Haruskah kusebut ini penyesalan?
Tentang masa-masa yang terlanjur hitam
Tentang seruan yang mestinya tertancap dalam-dalam

Di sejuk seruan-Nya
Kucoba telusur ilham
Terbata aku membaca
Peta hidup, jazam…

Kasa-kasa putih
Adakah pada seluk selumu hatiku

Senin, 09 Desember 2013

Puisi; Adinda, Belahan Jiwa Takkan Tertukar

: Puisi untuk Mayang Sri


Kincir-kincir menanti ditiup angin untuk berputar
Burung-burung menanti lalang kering untuk dirumahkan
Penantian Adinda, belahan jiwa itu takkan tertukar
Ia berharap pada waktunya nanti dipertemukan

Ah, awan saja menanti dirinya menghitam untuk dapat menurunkan hujan
Bagaimana dengan kita?
Apakah kita sudah menempah diri menjadi shalihah?
Agar kita kelak menjadi pendamping dambaan

Kamis, 05 Desember 2013

Puisi; Ketukan Rindu

Ilustrasi: buletinilalang.wordpress.com

Oktober, pintu itu kuketuk
Tak ada jawaban
Perasaanku amuk
Kemungkinan lain sedang kupikirkan

September, aku kembali
Pada tubuh yang tetap sunyi
Pintu itu kuketuk sekian kali
Namun masih tetap dirampai sepi

Pada November dan hujan yang sama
Kutemui pintu itu lagi bersama hampanya jiwa
Akan ada yang keluar dari pintu itu, pasti
Tapi?

Hatiku
; mengapa sekeras batu

Selasa, 03 Desember 2013

Menjadi Salah Satu Nominator Fiksianer Terbaik 2013, Alhamdulillah!

Wah, sudah lama Nji tidak post nih. Hehehe. Nji belum memberi kabar khusus untuk blog Nji ini kalau....
Sehari sebelum milad Nji yang ke 20 kemarin Nji dapat banyak hadiah. Di antaranya, puisi Nji dimuat di Indopos tanggal 16 November 2013. Selain itu, ternyata Nji menjadi salah satu nominator Fiksianer terbaik 2013. Meski tidak terpilih, masuk sebagai nominator saja sudah bersyukur sekali! 

Coba bayangkan ada berapa ribu penulis fiksi di Kompasiana.com? Dan Nji adalah satu dari sepuluh nominator itu! Saat itu, kompasiana mengadakan acara kompasianival yang membuat perhelatan akbar dengan beberapa event menjelang miladnya. Jadi, di kompasianival ada tiga kategori, yaitu Reporter Warga Terbaik 2013, Kolumnis Terbaik 2013, dan Fiksianer Terbaik 2013.

Kamis, 24 Oktober 2013

Curahan Hati Seorang Ibu


Dalam derasnya hujan ibu mendekapmu. Menenangkanmu saat kilat menyambar dan petir menggelegar. Ibu biarkan engkau terlelap dalam dekap. Lalu ibu pindahkan engkau perlahan ke tempat tidur, memastikan selimutmu nyaman dan tidak akan membiarkanmu bermimpi buruk.

Ibu perhatikan engkau, Nak. Ibu lihat kakimu yang biasa tertatih telah memanjang. Tanganmu yang biasanya hanya bisa memukul-mukulkan sendok plastik ketika makan sudah kuat menggenggam. Engkau sudah bisa melompat walau sesekali. Engkau sudah bisa melempar bola walau belum jauh sekali.

Setelah pagi menjelang, ibu membawamu ke halaman.

Gadis dalam Gerobak


*

Ridan adalah sebuah desa yang terletak di sebuah bukit yang jauh sekali dari keramaian kota. Mata pencaharian penduduk di desa itu pada umumnya adalah berkebun. Pagi-pagi sekali bapak-bapak di desa itu sudah meninggalkan rumahnya untuk berkebun, termasuk Bapak Haira. Bapak Haira bekerja di kebun Ubi Madu milik Pak Rusdin. Tapi, itu dulu saat Bapak Haira masih hidup.

Haira adalah gadis kecil dua tahun yang menggemaskan. Rambutnya keriwil dan matanya bulat, begitu juga hidungnya. Setelah selesai membereskan rumah, Ibu Haira menanti Bu Dutmini dengan kereta kudanya—seseorang yang biasa mengantarkan cuciannya ke rumah Ibu Haira. Biasanya cucian itu akan diantar ke rumah Bu Dutmini satu kali seminggu setelah pakaian bersih menumpuk. Ibu Haira mengantarkannya dengan gerobak karena rumah Bu Dutmini cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Di dalam gerobak

Bedak yang Tertumpah



Pagi itu, Uci bermain di kamar dengan bonekanya. Uci adalah gadis kecil berusia empat tahun. Uci mendudukkan boneka pandanya di kursi dan ia duduk di lantai. Uci memegang kuali mainan dan meletakkan kuali itu di atas kompor mainan. Ia mengambil manik-manik gelang yang sudah putus saat kemarin gelangnya tersangkut di pagar rumah. Manik-manik itu ia masukkan ke dalam kuali mainan, lalu menaburkan bedak dan mengaduk-aduknya.

“Uci sayang, papa pergi kerja dulu ya… Belajar yang rajin di rumah ya sama mama. Nanti, papa belikan buku gambar,” Uci menyalami papanya, lalu ia berdiri dan mengantarkan papanya sampai pagar rumah bersama mamanya.

“Siap, papa. Usyi bisa jadi anak pintay,” ucapnya sambil tersenyum.