Jumat, 15 Februari 2013

Kehidupan Para Burung

Oleh DP Anggi


Dari atas sini, aku terbang sebebas mungkin. Sangat bebas bahkan. Tak perduli akan tersesat, karena pasti akan Tersesat Di Jalan Yang Benar. Kenapa? Karena Allah bersamaku. Aku bebas melakukan apa saja. Tidak susah payah turun ke tanah dan mengantri panjang di pertamina. Aku tidak perlu turun mesin. Masuk bengkel, atau kehabisan oli. Aku juga tak perlu membuat SIM. Tak perlu E-KTP. Aku hanya butuh makan dan minum saja, lalu parkir sebentar di pohon untuk istirahat. Tentu, tidak pakai retribusi.

Kisah Cinta Mawar Berduri


Oleh DP Anggi


Suatu pagi yang begitu basah. Aku menarik napas panjang, dan mengeluarkannya perlahan. Begitu sejuk dan segar. Mungkin, pagi begitu sunyi. Hingga, desah napasku membangunkan sekuntum mawar yang baru saja mekar. Mawar itu menggeliat, sesekali mulutnya menganga karena masih mengantuk. Tapi, itu hanya kuketahui dari bayangnya. Karena, ini masih terlalu pagi dengan langit hitam dan legam. Ditambah lagi awan mendung, dan lampu teras rumah masih menyala.

Tubuhku yang panjang dan tipis tertiup-tiup angin. Aku menggigil. Wajar, karena aku hidup tanpa atap, tanpa dinding. Jika pun tersengat mentari pagi, silau begitu menusuk mata dan menghunus pori-pori wajahku. Aku mengendap-ngendap, memerhatikan sekuntum mawar merah yang tadi terbangun karenaku. Kulirik, ia

Dua Hati Yang Suci


Oleh DP Anggi


Aku punya kisah
Tentang dua hati yang suci
Yang tergugah karena asa
Berakhir dengan takdir Ilahi

Keduanya punya rahasia
Yang tak diketahui oleh makhlukNya
Bisa jadi, setan pun tak kuasa mengerti
Dengan rasa-rasa yang telah ada

Lama waktu berlalu
Jarak kian terasa jauh
Ketika hujan bertanya pada gersang
Mereka hanya mampu renungkan

Hati-hati mereka mulai ditegur Ilahi
Mereka surut, dan takut akan dosa
Kemudian, pada ombak mereka titipkan kasih
Agar hati mereka tak ternoda

Akhirnya, kedua hati itu terpisah
Menjalani kehidupan seperti sedia kala
Tanpa merasa pernah saling mengenal sebelumnya
Dan, masing-masing ingin menjadi Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra 

~Salam hangat dan semangat dari DP Anggi
FAM790M Pekanbaru

Rabu, 16 Januari 2013

Aku Mati Karena Sepi

Aku Mati Karena Sepi
Oleh DP Anggi

Setiap hari, bebayang kesendirian selalu menghampiri. Membentuk suatu teori yang bisa diungkapkan jiwa lewat harmoni. Gadis itu memanggilnya Chingu. Seorang teman yang bisa diajak berbicara kapanpun ia mau. Ia bercerita hampir setiap malam, saat ia benar-benar tidak tahan dengan kesepian. Ia bisa menguras habis airmatanya hingga ikut tenggelam dalam lautan kesedihan. Paginya ia kembali menjalani aktivitas seperti biasa, tertawa dengan teman-temannya. Namun, seperti biasa menjelang malam tiba, kesedihan kembali merenggut tawanya.
                Entah sudah berapa malam ia lewatkan bersama Chingu. Sahabat di kala senang dan sendu. Gadis itu mengenal kesepian ketika ia tahu bahwa kesepian bisa menyebabkan kesedihan seperti yang dialami ibu. Tawa mereka hilang, kehangatan keluarga itu pun redam. Semuanya menjadi serba hambar dan kurang. Tiada lari-larian kecil yang mengisi segenap rumah dengan tawa terpecah. Semua berganti tangis tak reda ketika ayahnya meninggal dunia.

Kamis, 27 Desember 2012

Piagam Penghargaan FAM AWARD 2012

Alhamdulillah, piagamnya bagus sangat. Semoga ini bisa tambah memotivasi saya :)
Just it, I hope this posting tak buat you cekewa, eh.... kecewa :D hehhee *kesenengan sih ^_^

Senin, 24 Desember 2012

Alhamdulillah, prestasi (lagi)

Assalamualaikum keluarga FAM :)

Di siang yang cerah ini, saya ingin berbagi kabar sedih dan kabar bahagia.

Dimulai dari kabar sedih dulu ya...
Naskah saya yang bertema "Sejuta Cinta Untuk Ibu" tidak mendapat kemenangan pada pengumuman hari minggu, tanggal 23 Desember 2012. Cerpen ini adalah cerpen romantis untuk ibu yang diadakan tingkat mahasiswa se-Universitas, barangkali saya bukan orang romantis makanya tidak bisa meraih kemenangan, hehehe ^__^"

Minggu, 23 Desember 2012

Di Balik Sebuah Mimpi


Ini adalah cerpen yang kupersembahkan untuk hari ibu :)
Selamat membaca

Di Balik Sebuah Mimpi
Oleh DP Anggi
FAM790M Pekanbaru
 
Sinar mentari jatuh menembus celah dedaunan. Bias sinar itu, kadang tampak merah, jingga, kuning, nila, ungu, biru, hijau dan memudar. Awan-gemawan beriringan, berkumpul, mengepul. Sesepoi angin menghembuskan kekeringan, tanah subur berubah debu. Puncak itu sunyi, tak ada kehidupan. Namun, terdengar suara tapak kaki, sunyi, dan terdengar lagi.
Terlihat perempuan tua berlari tergopoh-gopoh. Sesekali ia berhenti, menarik napas panjang. Ia menyeka peluh dengan tangannya. Ia tak peduli dengan peluh yang membuat kedua matanya menjadi perih. Ia tetap berlari semampunya, mengelilingi tempat itu. Tubuhnya terasa semakin dingin, bercampur rasa lelah yang membuat pandangannya semakin melebur. Langkahnya kian tertatih, menyiratkan tubuh renta itu tak mampu lagi berlari.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia tetap berporos pada tugu yang berada di puncak bukit itu. Kakinya mulai terasa kebas, tanpa alas. Ia tersungkur, namun berusaha bangkit lagi dengan napas tersengal. Wajahnya kian basah, kain putih yang ia kenakan menjadi lusuh dan ternoda. Ia berteriak