Kamis, 17 September 2015

Kreatifnya Mahasiswa Tingkat Akhir, "Tukang Production"

Kalau dengar "Mahasiswa Tingkat Akhir", akan identik dengan mahasiswa yang benar-benar dikejar deadline!
Tapi, untuk yang satu ini, meski pun seperti itu, saya dan teman-teman saya yang akhwat nih berupaya agar "Mahasiswa Tingkat Akhir" ngga hanya identik dengan deadline, tetapi juga identik dengan kreativitas dan aktivitas bermanfaat lainnya *selain aktivitas ngejar-ngejar dosen*





Nah, kali ini saya ingin menceritakan tentang 'kelakuan' kami, sang calon sarjana ini *bahasa halus dari mahasiswa tingkat akhir*.



Di dalam instagram Tukang Production, tertulis seperti ini:

Hobi takkan mengabaikan cita-cita, hanya saja sedikit menunda 🎥📹.
Membangun, belajar, berkarya dan melakukan banyak hal bersama para calon S.IP dan calon S.Ikom. Ya... rasanya begitu menyenangkan.

Ini semua berawal dari sebuah organisasi yang mempertemukan kami. Kami pernah duduk menikmati bidang kenggotaan yang sama, hanya saja kami berada di periode yang berbeda (Syiar fakultas). Sampai di organisasi berikutnya pun, kami kembali dipertemukan di bidang keanggotaan yang sama (Syiar universitas). .
Kami hanya ingin menyalurkan hobi yang bermakna dakwah. .
Maaf jika pengaplikasian diri kami sebagai kader dakwah belum sempurna. Maaf jika cara kami masih terlihat biasa.
Profesionalitas memang tuntutan, tapi insyaaAllah kami tetap memberikan batas dan jarak pada ia yang berbeda (ikhwan).
Semoga kita mampu menjadi pondasi kokoh yang saling menguatkan dalam kefuturan, mampu saling menegur dalam kekhilafan dan saling menyemangati dalam kelemahan. .
Dan... Sepertinya toga itu tampak unik, nanti kita coba yaa bertiga 😊😊😊 Aamiin. Semangat! 🎓🎓🎓🎬🎬🎬

Yap! Kami berasal dari jurusan yang berbeda tetapi selalu diletakan di divisi yang sama hingga saat ini. Di sana kami belajar banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan hobi kami.

TP walimahan, eh sebagai tamu undangan :D

Mendalami Hobi (Desain)

Dunia maya ibarat dua sisi mata uang. Kita bisa saja mendapatkan sisi manfaatnya, tapi juga bisa terjerumus ke dalamnya. 
Kali ini kita bahas manfaatnya ya. 

Masa muda itu, adalah masa emas yang takkan kembali. Salah satu hal yang banyak dilakukan remaja untuk mengisi masa mudanya adalah dengan menekuni hobi mereka. Saya pun begitu. Meski pun dunia maya dan hobi adalah dua variabel yang berbeda, kita bisa menyatukannya untuk membuat sesuatu yang lebih bermanfaat. Bagi saya, dunia maya adalah wadah yang sesuai untuk mengembangkan bakat dan hobi saya. 

Selain menulis, saya juga hobi desain. Terutama dengan aplikasi Photoshop. Jujur saja, saya ngga bisa corel draw. Sejak zaman sekolah ampe sekarang pake photoshop mulu. Saya belajar perlahan. Itu pun tahu photoshop setelah dikenalkan oleh guru saya lewat mata pelajaran, beliau adalah Pak Roni (Guru muda yang baru aja masuk ke SMA waktu itu. Barakallah pak :D )

Nah, saya belajar photoshop kurang lebih 6 bulan. Dari belajar dasar hingga ujiannya. Tapi setelah itu, saya ngga pernah buka photoshop lagi. Nah, ketika kuliah, saya masuk organisasi rohis, LSMI ALMADANI FISIP UR. Di sana saya dimasukin ke bidang HID mulu. HID itu Humas, Informasi dan Dokumentasi. Saya bagian desain-desain sertifikat, brosur / pamflet, spanduk, stiker, dan plakat. Apa pun acaranya, saat itu saya yang selalu saja masuk bidang HID. Mau ngga mau saya belajar lagi dari awal. Jelek banget hasilnya. Saya ngga ngerti padanan warna. Letak tulisan. Jenis huruf agar mudah dibaca. Ancur daah pokoknya. 

Tapi, ikhwah di sana tidak pernah kecewa dan menunjukkan bahwa "desain kamu jelek". Ikhwah di sana mengajari saya dengan terus meletakkan saya di bidang yang sama. Sampai suatu hari, saya bosan di bidang ini terus dan komplain ke Amir (Ketua Umum). Akhirnya saya dipindahkan ke bidang yang lain di agenda selanjutnya. Tetapi, apa yang terjadi pemirsa?!

Profil DP Anggi di Banten Raya

Halo everybody!
Gimana kabarnya? Maaf ya Nji jarang banget update.
Alhamdulillah... kemarin, (mungkin) hari Rabu, 9 September 2015 profil saya terbit di Koran Banten Raya. Sebelumnya, ada sesi wawancara di hari Senin, 7 September 2015.



Ya biasa, wawancaranya seputar dunia tulis menulis. Seputar puisi. Dan itu wajar. Tapi, saya sempat terperangah :O saat wartawannya, yang juga merupakan teman saya (meski pun ngga kenal dekat dan hanya beberapa kali berdialog di inbox fesbuk) melemparkan pertanyaan yang buat saya itu... ya sesuatu buanget :D

apa ituuuuu?
di mulai dari ini..
"Teteh, usia berapa?"
*masih calm nih :)

Ga lama setelah "sedang mengetik pesan" berhenti... tuingg!

Minggu, 16 Agustus 2015

Long Time No See, Puisi Saya di Indopos

Assalamualaikum sahabat
Long time no see :)


Biasanya yang sudah lama tidak mendengar kabar saya, setelah bertanya kabar, mereka juga bisa dipastikan akan bertanya, "Masih menulis?"

Sejak saya tidak sering menulis di Kompasiana.com lagi--tersebab jarang online di laptop, saya lebih sering menulis di Instagram. Saya mencoba mencari suasana baru di sana. Apalagi, saya adalah orang yang selain menulis, juga sangat senang terhadap dunia desain juga fotografi. di Instagram, saya mencoba memadukan tulisan saya, hasil jepretan dan desain gambar (photoshop).

Di Instagram, saya lebih senang berselancar sambil berdakwah, InsyaaAllah. Menurut saya, masyarakat Instagram itu unik. Masyarakat Instagram mudah memperlihatkan karakter melalui siapa yang difollownya. Akun-akun islami pun bermunculan dan peluang dakwah menjadi lebih besar. Yang lebih menarik, akun-akun islami yang followersnya ratusan ribu pun dengan senang hati akan merepost tulisan dari akun-akun yang ingin ikut berdakwah sehingga koneksi dakwah menjadi sangat luas di sana.

Kembali ke topik, "Masih Menulis?"
Ya, tentu. Meski pun terlihat tidak aktif lagi di media yang dulu melahirkan nama saya sebagai penyair (kompasiana) di artikel Kompasiana Melahirkan Penyair DP Anggi dan Satu Lagi Pensyair Berkualitas dari Kompasiana, dan juga tidak terlalu aktif di facebook (yang terlihat oleh teman-teman dan guru-guru saya yang juga kompasianer) saya tetap mengirimkan karya saya ke media cetak setelah dulu pernah terbit di Riau Pos, Indopos dan Jawa Pos.

Kabar baiknya, puisi saya kembali dimuat di Indopos. Saat itu bahkan sampai sekarang, saya tidak tahu puisi mana yang telah dimuat karena saya bahkan tahu pemuatan edisi 5 Juli 2015 ini setelah pihak Indopos menelfon saya guna meminta nomor rekening.

Alhamdulillah. Jika memang begitu, berikut puisi yang mungkin saja dimuat oleh Indopos karena puisi terakhir yang saya kirim ke Redaktur Puisi Indopos;

Senin, 10 Maret 2014

Apa Kata Mereka Tentang Raudah-Raudah Sajadah?

Penerbit Alif Gemilang Press ~ Buku Raudah-Ruadah Sajadah (Okt, 2013) nomor urut 5 Best Selling Of The Year 2013

*


Putri dari DR. Khairunnisa Musari ~ Peng-endorsment Buku ini
*
Miladya Rahmawati ~ Komikus Muslimah

kau bak permata
sementara, aku hanya debu yang menutupi
kau lelaki syurga
sedang aku, hanya bidadari dalam mimpi...
teruslah saling menasehati, mengingatkan dan menebar kebaikan

Sabtu, 01 Maret 2014

Puisi; Masa Lalu yang (Barangkali) Tak Ada

finela.files.wordpress.com
finela.files.wordpress.com

Aku hadir dekat pada penghujung malam
Barangkali menyapamu satu kali ketika mimpi ingin bermalam
Menuntaskan keluh dan rindu
Namun, apakah ketiadaan menyediakan waktu untukku?

Pada bus kota yang ditumpangi sepi di suatu senja
Barangkali aku memilih untuk berdiri saja
"Mengapa?" Tanya seorang pak tua
"Di sana pernah ada masa lalu yang tak ada"

Kamis, 20 Februari 2014

Puisi; Keterpisahanku dari Surga

miriadna.com*
miriadna.com
*

Keterpisahanku dari surga
Telah aku tangisi ketika terlahir ke dunia
Wajah-wajah asing menatapku iba
Akan ada dosa yang kupikul seluas semesta

Aku dikenalkan pada Sang Pencipta
Tamu Agung untuk setiap jiwa yang mencintai-Nya
Aku dikenalkan Rasulullah
Qiyadhah umat islam seluruh dunia

Aku hening dalam tangis
Bak keheningan sufi yang tak boleh dipecah oleh darwis