Layaknya cinta tragis di
dunia ini. Rumput liar dan mawar berduri mati oleh semasing ego yang
tertanam dalam diri. Semasing mereka tak ingin melukai. Tapi, akhirnya
hidup mereka hanya tinggal sejarah yang nisbi. Tinggallah matahari yang
juga sempat ego, yang tak ingin memberikan sinarnya kepada semesta raya.
Tinggallah teras tua, yang kian berlumut dan lampu neon yang kian
redup. Sesekali angin membelai, membuat dedaunan terkulai.
Akulah,
akulah bagian dari kisah ini. Bagian dari kisah sunyi. Yang saat itu
hanya tinggal bisikan hati yang perih. Aku ada karena sempat mati
terinjak di bawah tanah retak. Matahari begitu menyayangku. Katanya, aku
mirip dengan Rumput Liar teman lamanya itu. Ia kerap bercerita tentang
masa lalu. Aku sudah lelah untuk menasehatinya. Bahwa, masa lalu hanya
kaca spion yang boleh dilihat sesekali saja. Bukan setiap hari, karena






