Senin, 06 Agustus 2012

Segera dapatkan buku ini! "Ustad Seumur Jagung"

Assalamualaikum wr wb.
Bismillahirraahmanirrahiim...
Pesan Segera Novel "Ustad Seumur Jagung"

Sinopsis :

Aji adalah seorang pemuda yang bercita-cita ingin melanjutkan studinya ke timur tengah. Mesir dan seisinya telah melekat dibenaknya semenjak dia duduk di bangku MTs dan mengenal bahasa arab kala itu, tapi cita-cita kecil itu seolah terkikis masa ketika keluarganya memasukkan dia ke SMK setelah lulus dari MTs, namun siapa sangka dipenghujung putih abunya itu Alloh berencana lain dengan pertemuannya dengan salah satu pembina kerohanian islam di sekolahnya itu yang memberinya info tentang sebuah lembaga bahasa arab dan islam.
Karenanya dia dipertemukan dengan sebuah lembaga bahasa arab setarta D2 program persiapan bahasa. Sebuah episode terindah pun terbingkai dipenghujung semester kuliahnya di lembaga itu. 6 bulan terakhirnya , Aji dipertemukan dengan ke-60 santri boarding disalah satu SMP di kota Bandung. Pertemuan yang bagitu berlaut hikmah hidup bagi Aji.
Dunia santri pun menghiasi kehidupan Aji katika berstatus sebagai pembimbing ke-60 anak santri tersebut. Pesan hikmah, canda, tawa, celoteh manja,’ibroh, sedih, dan keceriaan pun selalu tersirat dari wajah-wajah kecil santrinya.
Lalu mengapa Aji menjuluki dirinya dengan “Ustadz Seumur jaGung”?. Kisah hikmah apa saja yang Aji petik dari wajah-wajah kecil penuh harap dan pesantren mungil itu?. Penasaran?. Maka temukan jawabannya di untaian kisah “Ustadz Seumur jaGung” ini. 
 
Untuk Lebih Lengkap silahkan klik>> www.famindonesia.blogspot.com
Untuk Pemesanan Silahkan Contact nomor dibawah ini:
Aliya Nurlela :
0812-5982-1511
Ayo segera pesan! 

Minggu, 05 Agustus 2012

Dibalik Pasal 34 (1) UUD 1945

 Oleh : DP Anggi FAM790M Pekanbaru

Tahukah? Apa yang kalian ketahui mengenai Pasal 34 Ayat 1 UUD 1945, berbunyi –> Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara.
Telah banyak kompasianer yang mengulas hal ini, tentu saja saya tak ingin kalah. Karena saya sebagai mahasiswa merasa miris. Sadarkah dengan kenyataan yang terjadi di negara kita tercinta? Sadarkah dengan bumi pertiwi yang menyimpan tangis ringkiknya?

Mari berkaca pada realita , saat berhenti di lampu merah, seorang bocah berjualan koran, seorang bocah menyuarakan suara parau nya, bahkan juga ada fakir yang meminta-minta.
Sadarkah? saking miskinnya mereka, mencopet mereka jadikan sebagai hobi, membanci pun mereka jadikan profesi, mengasong pun mereka tetap dikejar-kejar para patroli!
Mereka tidak berpendidikan, mereka tidak punya uang untuk sekolah, mereka tidak punya uang makan yang bergizi, tak punya uang tinggal di rumah mewah

Rabu, 01 Agustus 2012

Cermin Muda telah Hinakan Bumi Tua


Cermin Muda telah Hinakan Bumi Tua

Cermin, bicaralah padaku. Aku ingin berbicara empat mata denganmu. Aku ingin menanyakan beberapa hal karena tak ada lagi tempatku bertanya. Bertanya pada rumput yang bergoyang hanya membuat aku bersedih karena dia enggan menjawab jika angin tak bersamanya. Cermin, mengapa kini kau berubah? Apa yang salah pada dirimu? Kau bukan lagi orang yang aku kenal. Kau berubah jauh dari apa yang semula kita ikrarkan.
 Apa yang membuatmu tak seindah dulu? Apa kau terlalu banyak mengenal seisi dunia hingga kau terombang ambing dalam ketidakpastian hingga jati dirimu terkoyak? Kau sudah tidak berkilau seperti berlian yang disinari terik mentari. Kau sudah tak semerbak mewangi seperti kebun Bunga Tanjung yang merantai indah dijalin benang.
Ya, aku tahu. Kita memang berbeda. Aku nyata. Sementara kau hanya Bayangan ku yang semu. Kau kah aku? Aku ini kau? Bukan! Kita tak sama. Aku sudah tak mengenal kau lagi. Aku heran kepadamu, semakin tinggi jenjang pendidikanmu semakin 'Alay' tingkah dan lisanmu.
Kau itu cermin muda, yang digunakan generasi setiap hari. Tapi, kau semakin hari semakin melunjak. Ada yang aneh yang merasuk kedalam dirimu. Globalisasi kah? Atau Liberalisme tanpa batas? Bukan bertambah cerdas kau disekolahkan. Bukan bertambah bagus pergaulanmu setelah bertemu banyak teman. Namun kau berada jauh dari tegak lurus sumbu x dan sumbu y, kau menyimpang.